HOME  ⁄  Ekonomi

Menaker Menyoroti Pengangguran Anak Muda 17,4 Persen saat Perusahaan Kesulitan Mencari Talenta

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menaker Menyoroti Pengangguran Anak Muda 17,4 Persen saat Perusahaan Kesulitan Mencari Talenta
Foto: (Sumber :Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memaparkan program pelatihan vokasi nasional di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, Kota Serang, Banten, Selasa (1/9/2026). Kementerian Ketenagakerjaan secara resmi memulai pelatihan vokasi yang diikuti 12.128 peserta pada program Pelatihan Vokasi Nasional Batch 4 tahun 2026 di seluruh Indonesia guna mencetak talenta muda yang berdaya saing tinggi di dunia industri. (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/YU).)

Pantau - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyoroti tingkat pengangguran terbuka (TPT) kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 17,4 persen di tengah 48 persen perusahaan di Indonesia yang mengaku kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kompetensi memadai.

Yassierli dalam Indonesia’s Green Jobs Conference 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026), mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan dunia usaha serta industri.

Berdasarkan laporan Future of Jobs World Economic Forum (WEF) 2025 yang dikutip Yassierli, sebanyak 54 persen perusahaan di Indonesia mengidentifikasi kesenjangan keterampilan atau skill gap sebagai salah satu permasalahan utama dalam bisnis mereka.

Menurut Yassierli, Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan menciptakan lapangan kerja, tetapi juga harus memastikan pekerjaan yang tersedia merupakan pekerjaan layak.

Kemnaker Mengubah Pelatihan Vokasi Sesuai Kebutuhan Industri

Kementerian Ketenagakerjaan mendorong perubahan pendekatan pelatihan vokasi dari berbasis pasokan atau supply-driven menjadi berbasis kebutuhan industri atau demand-driven.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat keterhubungan dunia pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan industri sehingga tenaga kerja memiliki kompetensi sesuai permintaan pasar.

Yassierli mencontohkan pendirian balai pelatihan sektor dirgantara di Bandung yang disesuaikan dengan kebutuhan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Kebutuhan tenaga kerja pada sektor tersebut diperkirakan mencapai 500 hingga 1.000 orang.

"Kalau memang kebutuhannya jelas, kami akan support. Biaya pelatihannya akan ditanggung Kementerian Ketenagakerjaan," ujar Yassierli.

Menurut Yassierli, pendekatan tersebut diperlukan agar pelatihan vokasi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga memastikan keterampilan mereka sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

BPS Mencatat 7,22 Juta Orang Masih Menganggur

Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan Sakernas Mei 2026 mencatat jumlah penduduk usia kerja mencapai 220,23 juta orang dengan 155,41 juta orang di antaranya masuk angkatan kerja.

Sebanyak 148,19 juta orang tercatat telah bekerja, sedangkan 7,22 juta orang masih menganggur.

Sebanyak 64,82 juta orang lainnya masuk kelompok bukan angkatan kerja, seperti pelajar, pengurus rumah tangga, dan pensiunan.

TPT secara nasional tercatat sebesar 4,65 persen, sementara struktur pasar kerja masih didominasi pekerja informal sebesar 56,54 persen dan pekerja formal sebesar 38,81 persen.

Dari sisi pendidikan, sebanyak 50,52 persen tenaga kerja merupakan lulusan SD dan SMP, sedangkan lulusan SMA dan SMK mencapai 32,27 persen serta perguruan tinggi sebesar 12,56 persen.

Data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan lulusan universitas memiliki proporsi bekerja di sektor formal sebesar 76,5 persen.

Sementara itu, tingkat pengangguran lulusan SMA tercatat sebesar 6,9 persen dan lulusan SMK mencapai 8,6 persen.

Lulusan SD dan SMP didominasi pekerja sektor informal hingga 72,5 persen dengan tingkat pengangguran sebesar 2,8 persen.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026