HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat ke Level 6.632 saat Investor Mencermati Konflik Timur Tengah dan Target Ekonomi Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Menguat ke Level 6.632 saat Investor Mencermati Konflik Timur Tengah dan Target Ekonomi Indonesia
Foto: (Sumber :Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/8/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU/pri.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 37,05 poin atau 0,56 persen ke posisi 6.632,83 pada pembukaan perdagangan Kamis (3/9/2026) di tengah perhatian investor terhadap sentimen global dan domestik.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut naik 3,30 poin atau 0,51 persen ke posisi 655,17.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka selama indeks mampu bertahan di atas area 6.510.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.510, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.635 dan peluang tutup area gap di level 6.733, next area gap di level 6.858. Sebaliknya, apabila terjadi aksi profit taking, IHSG bisa kembali koreksi ke support 6,551 dan 6.510 dan 6.454,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed Jadi Perhatian

Dari global, pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk fasilitas pertahanan udara, radar, dan komunikasi.

Iran kemudian dilaporkan membalas dengan serangan rudal balistik terhadap pangkalan Marinir AS di Yordania sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan kawasan dan potensi gangguan jalur perdagangan energi strategis di Selat Hormuz.

Investor juga memperhatikan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara yang meningkatkan kekhawatiran bahwa suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama.

“Kondisi tersebut membuat pasar semakin bergantung pada perkembangan data ekonomi, terutama laporan tenaga kerja dan inflasi, dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya,” ujar Liza.

Data ADP Employment Change menunjukkan sektor swasta AS menambah 38.000 tenaga kerja pada Agustus 2026, lebih rendah dari ekspektasi 47.000 dan menjadi laju penciptaan lapangan kerja paling lambat sejak Januari 2026.

Sebaliknya, pesanan baru barang manufaktur AS meningkat 0,9 persen secara bulanan pada Juli 2026 menjadi 663,6 miliar dolar AS atau melampaui perkiraan kenaikan 0,7 persen.

“Investor kini akan memusatkan perhatian pada data Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk Agustus yang akan dirilis Jumat (04/09), sebagai petunjuk penting terhadap kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter The Fed,” ujar Liza.

Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai Enam Persen

Dari dalam negeri, pemerintah dan Komisi XI DPR RI menyepakati asumsi dasar ekonomi makro RAPBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi 6,0 persen dan inflasi 2,5 persen.

Asumsi tersebut juga menetapkan nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen.

Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan 6,0-6,5 persen, tingkat pengangguran terbuka 4,30-4,87 persen, penciptaan 2,57-3,49 juta lapangan kerja baru, serta pendapatan nasional bruto per kapita 5.800-5.840 dolar AS.

Liza menilai target pertumbuhan enam persen menunjukkan ambisi pemerintah mengakselerasi perekonomian dari pola pertumbuhan sekitar lima persen, sementara ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026 setelah tumbuh 5,61 persen pada kuartal sebelumnya.

“Akselerasi pertumbuhan membutuhkan peningkatan investasi produktif, kapasitas produksi, produktivitas, serta peran sektor swasta agar target tersebut dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujar Liza.

Bursa regional Asia pada Kamis pagi mayoritas menguat, termasuk Nikkei 0,08 persen, Shanghai 0,43 persen, Kospi 0,92 persen, Hang Seng 0,56 persen, dan Straits Times 0,47 persen.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026