
Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 50 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.713 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (3/9/2026), meski pergerakannya dibayangi peningkatan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp17.763 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan rupiah dibayangi eskalasi ketegangan geopolitik setelah terjadi serangan antara Amerika Serikat dan Iran.
"Meningkatnya ketegangan tersebut memicu meningkatnya skeptisisme investor terhadap perkembangan negosiasi perdamaian," ungkap Josua di Jakarta, Kamis.
Sputnik Laporkan Iran Serang Pangkalan AS
Berdasarkan laporan Sputnik yang dikutip dalam pemberitaan, militer Iran disebut menyerang pangkalan-pangkalan Amerika Serikat yang berada di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Irak.
Sputnik melaporkan serangan tersebut dilakukan Iran sebagai balasan atas serangan mematikan Amerika Serikat dalam sebuah acara pernikahan di Iran.
Sementara itu, Anadolu melaporkan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sejak Selasa (1/9/2026) malam mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sasaran Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Iran.
Menurut laporan Anadolu, setelah pengumuman CENTCOM tersebut, media Iran melaporkan adanya ledakan di Pulau Qeshm serta Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, dan Konarak.
"Ketidakpastian yang lebih tinggi di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak," ucap Josua.
Rupiah Diprediksi Bergerak hingga Rp17.825 per Dolar AS
Eskalasi konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak menjadi sejumlah faktor yang diperkirakan memengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS.
Josua memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.825 per dolar AS dalam perdagangan Kamis.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




