HOME  ⁄  Ekonomi

Kenaikan Impor Indonesia Didorong Investasi, Ekonom Sebut Fundamental Ekonomi Tak Melemah

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kenaikan Impor Indonesia Didorong Investasi, Ekonom Sebut Fundamental Ekonomi Tak Melemah
Foto: Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta

Pantau - Kenaikan impor Indonesia dinilai berkaitan dengan siklus pertumbuhan berbasis investasi yang mendorong kebutuhan barang modal dan bahan baku, bukan serta-merta menunjukkan pelemahan fundamental ekonomi.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan peningkatan investasi dan aktivitas industri membuat kebutuhan mesin, peralatan, bahan baku, serta barang antara untuk pengembangan kapasitas produksi ikut meningkat.

"Profil perdagangan tersebut tidak serta-merta menunjukkan fundamental ekonomi yang melemah, melainkan mencerminkan siklus pertumbuhan berbasis investasi ketika permintaan impor meningkat lebih cepat daripada penerimaan ekspor," kata Irman dalam keterangannya berdasarkan Indonesia Market Color yang diterima di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Impor Juli Tembus 26,09 Miliar Dolar AS

Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor Indonesia pada Juli 2026 mencapai 26,09 miliar dolar AS atau sekitar Rp460,12 triliun, naik 27,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor pada periode tersebut mencapai 26,22 miliar dolar AS atau sekitar Rp462,42 triliun, tumbuh 6,05 persen secara tahunan.

Perkembangan tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 membukukan surplus 121,9 juta dolar AS atau sekitar Rp2,15 triliun setelah pada Juni mengalami defisit 450,5 juta dolar AS atau sekitar Rp7,95 triliun.

Irman menyebut aktivitas investasi dan industri yang kuat terus meningkatkan kebutuhan impor untuk menunjang produksi di dalam negeri.

"Kuatnya investasi dan aktivitas industri terus meningkatkan kebutuhan barang modal, mesin, bahan baku, dan input antara," ujar Irman.

Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 tercatat sekitar Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target investasi nasional sepanjang tahun sebesar Rp2.041,3 triliun.

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi tersebut tumbuh 7,2 persen dibandingkan semester I 2025 serta menyerap sekitar 1,44 juta tenaga kerja Indonesia.

Penanaman modal asing mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen dari total realisasi, sedangkan penanaman modal dalam negeri mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8 persen.

Investasi tersebut antara lain ditopang industri logam dasar, pertambangan, serta sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.

Impor Dinilai Bisa Memperbesar Kapasitas Produksi

Irman menilai impor yang berkaitan dengan investasi dapat memperluas kemampuan produksi perekonomian Indonesia dalam jangka lebih panjang.

"Impor tersebut pada akhirnya dapat memperluas kapasitas produktif, meskipun dalam jangka pendek sebagian penerimaan ekspor digunakan untuk memenuhi kebutuhan impor," ucap Irman.

Secara kumulatif pada Januari-Juli 2026, BPS mencatat ekspor Indonesia mencapai 167,03 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.945,74 triliun, meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai 163,33 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.880,49 triliun, meningkat 19,94 persen.

Indonesia dengan demikian mencatat surplus perdagangan sebesar 3,70 miliar dolar AS atau sekitar Rp65,25 triliun sepanjang Januari-Juli 2026.

Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar 22,45 miliar dolar AS atau sekitar Rp395,93 triliun, sementara sektor migas membukukan defisit 18,75 miliar dolar AS atau sekitar Rp330,68 triliun.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026