HOME  ⁄  Ekonomi

Bitcoin Tertahan di 78.000 Dolar AS, Arus ETF dan Kebijakan The Fed Jadi Penentu

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Bitcoin Tertahan di 78.000 Dolar AS, Arus ETF dan Kebijakan The Fed Jadi Penentu
Foto: CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Pantau - Bitcoin tertahan di kisaran 78.000 dolar Amerika Serikat (AS) per bitcoin setelah gagal mempertahankan harga di atas level psikologis 80.000 dolar AS, sementara pelaku pasar mencermati arus dana exchange-traded fund (ETF) dan arah kebijakan Bank Sentral AS atau The Fed.

Bitcoin sebelumnya menguat sekitar 26 persen dari 62.700 dolar AS hingga mencapai 81.235 dolar AS sebelum terkoreksi dan kembali bergerak di bawah 80.000 dolar AS.

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai koreksi tersebut belum mengubah prospek Bitcoin secara keseluruhan, tetapi pasar kini memasuki fase pembuktian terhadap kekuatan permintaan investor.

"Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat. Namun, setelah gagal bertahan di atas 80.000 dolar AS, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian," ujar Yudhono dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Menurut dia, investor perlu mencermati permintaan pasar spot dan arus dana institusional untuk mengukur kekuatan Bitcoin setelah mengalami reli.

Arus Dana ETF Menjadi Indikator Penting

ETF Bitcoin dan Ethereum di AS mencatat arus masuk bersih sekitar 2,71 miliar dolar AS pada pekan yang berakhir 24 Agustus dengan Bitcoin menyumbang sekitar 1,92 miliar dolar AS.

Namun, arus dana kemudian melambat setelah data Farside Investors menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar 201,9 juta dolar AS pada 28 Agustus.

Yudhono menilai konsistensi arus dana ETF menjadi salah satu indikator penting ketika Bitcoin bergerak pada kisaran 77.000 hingga 80.000 dolar AS.

"Jika arus ETF kembali positif ketika Bitcoin berada di area 77.000-80.000 dolar AS, itu bisa menjadi indikasi bahwa investor besar masih melihat koreksi sebagai kesempatan untuk membangun posisi," katanya pula.

Selain pergerakan ETF, pasar mencermati kebijakan moneter AS setelah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus direspons sebagai sinyal hawkish.

Warsh menegaskan inflasi AS masih berada di atas target dua persen dan perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum menunjukkan perbaikan yang cukup berarti.

Data Ekonomi AS Bakal Pengaruhi Bitcoin

Data ketenagakerjaan AS untuk Agustus dan Consumer Price Index (CPI) menjadi perhatian pasar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.

Yudhono memperkirakan volatilitas Bitcoin masih tinggi sepanjang September karena pergerakan pasar semakin bergantung pada data perekonomian AS.

"Pasar akan sangat sensitif terhadap angka tenaga kerja dan inflasi AS. Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka," katanya lagi.

Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi berpotensi memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin karena dapat mempersempit ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter AS.

Dalam jangka pendek, area 80.000 hingga 81.000 dolar AS menjadi zona penting yang perlu ditembus Bitcoin untuk membuka peluang terbentuknya kembali momentum penguatan.

Jika gagal merebut kembali level 80.000 dolar AS, Bitcoin berpotensi melanjutkan konsolidasi sembari menunggu katalis makroekonomi berikutnya.

"Pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke 80.000 dolar AS. Yang lebih penting adalah apakah 80.000 dolar AS nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support," kata Yudhono.

Menurut Yudhono, sinyal penguatan Bitcoin akan semakin kuat apabila perubahan tersebut disertai kembalinya arus modal institusional dan kondisi makroekonomi yang lebih kondusif.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026