
Pantau - Warga Suriah menghadapi tingginya harga kebutuhan sekolah menjelang tahun ajaran 2026/2027 di tengah tekanan ekonomi dan terbatasnya pendapatan rumah tangga.
Para orang tua di pasar-pasar Damaskus harus memilih kebutuhan yang paling mendesak, menggunakan kembali perlengkapan lama, hingga menunda pembelian sejumlah barang agar pengeluaran tetap terjangkau.
Di Pasar Al-Asrounieh, Damaskus Lama, Abu Masa berbelanja perlengkapan sekolah untuk kedua putrinya menjelang dimulainya kembali kegiatan sekolah di Suriah pada Minggu (6/9/2026).
"Kami datang untuk membeli perlengkapan sekolah. Saya punya dua putri," kata Masa kepada Xinhua.
"Semuanya mahal, sementara masyarakat tidak memiliki cukup uang untuk membeli kebutuhan mereka. Ada pembeli, tetapi harga-harga sangat tinggi," ungkapnya.
Untuk menghemat pengeluaran, keluarga Abu Masa menggunakan kembali sejumlah perlengkapan sekolah yang masih tersedia.
"Kami memberikan tas sekolah milik kakaknya kepada adiknya dan hanya membeli satu tas baru," imbuhnya.
Harga Kebutuhan Sekolah Tekan Pendapatan Keluarga
Kondisi serupa dialami Fadi, warga Damaskus yang mengaku keluarganya tidak mampu membeli seluruh kebutuhan sekolah anak secara bersamaan.
"Harga-harga tidak sebanding dengan tingkat pendapatan masyarakat. Harganya sangat tinggi, sehingga sebagian besar masyarakat hanya melihat-lihat alih-alih membeli," katanya kepada Xinhua.
Satu set perlengkapan alat tulis dasar untuk murid sekolah dasar berdasarkan perkiraan harga pasar pada Sabtu (5/9/2026) mencapai sekitar 100.000 hingga 250.000 pound Suriah lama atau sekitar 8 hingga 19 dolar AS, bergantung pada jumlah dan kualitas barang.
Harga sebuah buku tulis berkisar 3.000 hingga 10.000 pound Suriah lama, sedangkan pena dijual sekitar 700 hingga 3.000 pound Suriah lama.
Pengeluaran bertambah karena keluarga juga membutuhkan pakaian, sepatu, dan tas sekolah, dengan pakaian anak sekolah dasar berkisar 4 hingga 10 dolar AS serta tas atau sepatu masing-masing sekitar 5 hingga 15 dolar AS.
Biaya tersebut menjadi beban bagi rumah tangga karena upah minimum bulanan di Suriah tercatat sebesar 12.560 pound Suriah baru atau sekitar 105 dolar AS.
"Kami hanya membeli kebutuhan yang mendesak untuk saat ini. Kami tidak membeli seluruh perlengkapan sekolah sekaligus karena memang tidak mampu membelinya," tambah Fadi.
Pedagang Sebut Penjualan Lebih Lesu
Tekanan ekonomi juga dirasakan pedagang alat tulis karena konsumen semakin selektif dalam berbelanja dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemilik toko alat tulis di Damaskus Lama, Mohammad Khair Jaqmaqji, mengatakan masyarakat kini cenderung membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.
"Terus terang, jika melihat kondisi perekonomian, kegiatan usaha tahun ini lebih lesu dibandingkan tahun lalu," kata Jaqmaqji kepada Xinhua.
"Tahun lalu, pelanggan datang dan membeli perlengkapan lengkap dalam jumlah besar. Tahun ini, masyarakat terpaksa hanya membeli barang-barang yang benar-benar mereka butuhkan," ungkapnya.
Kondisi tersebut terjadi meski Bank Dunia mencatat inflasi Suriah diperkirakan turun menjadi 11,5 persen pada 2025 dari 72,1 persen pada 2024.
Tingginya biaya hidup, lemahnya pasar tenaga kerja, dan kebutuhan rekonstruksi masih memberikan tekanan terhadap rumah tangga di Suriah.
Sistem pendidikan negara tersebut juga masih menjalani pemulihan setelah bertahun-tahun terdampak konflik, perpindahan penduduk, dan kerusakan infrastruktur.
Kementerian Pendidikan Suriah menyatakan 1.370 sekolah telah direhabilitasi atau dipulihkan sepanjang 2026 setelah 2.017 sekolah diperbaiki pada 2025, sementara lebih dari 6.000 sekolah masih membutuhkan rehabilitasi dan pemeliharaan.
Lebih dari 500.000 anak Suriah telah kembali dari luar negeri, sedangkan sekitar 2,45 juta anak masih belum bersekolah berdasarkan data UNICEF yang dikutip Kementerian Pendidikan Suriah.
- Penulis :
- Aditya Yohan




