HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Diprediksi Menguat Tipis saat Mata Uang Kawasan Membaik, Harga Minyak Jadi Tekanan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Diprediksi Menguat Tipis saat Mata Uang Kawasan Membaik, Harga Minyak Jadi Tekanan
Foto: (Sumber :Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye.)

Pantau - Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat tipis pada perdagangan Selasa (8/9/2026) seiring membaiknya mayoritas mata uang kawasan, terutama yen Jepang, di tengah melandainya indeks dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan mata uang regional menjadi salah satu sentimen yang berpotensi menopang rupiah.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis dipengaruhi oleh menguatnya mayoritas mata uang kawasan, terutama yen Jepang seiring melandainya index dollar," ujar Rully di Jakarta, Selasa.

Yen sempat menguat hingga kisaran 155 per dolar AS setelah muncul spekulasi Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pertengahan September.

Penguatan yen turut memunculkan spekulasi bahwa selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat akan menyempit dalam waktu dekat.

Kebijakan BoJ dan The Fed Pengaruhi Pasar

Gubernur BoJ Kazuo Ueda sebelumnya menyatakan kesiapan menaikkan suku bunga dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi ekonomi dan harga.

Pada saat bersamaan, ekspektasi pasar meningkat bahwa Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga tetap stabil untuk sementara waktu seiring berkurangnya tekanan inflasi.

Perkembangan kebijakan moneter kedua negara tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, yen, serta mata uang kawasan lainnya termasuk rupiah.

Harga Minyak dan Impor Tekan Rupiah

Dari dalam negeri, pasar masih mencermati risiko defisit neraca perdagangan seiring tren kenaikan harga minyak dan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS.

"Harga minyak Brent tembus 98 dolar AS per barel dan WTI 93 dolar AS per barel. Peningkatan permintaan dolar terbesar berasal dari impor yang naik 27 persen secara tahunan," kata Rully.

Kenaikan kebutuhan dolar untuk impor berpotensi menjadi tekanan terhadap rupiah meskipun sentimen dari mata uang regional memberikan peluang penguatan.

Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah tercatat melemah menjadi Rp17.645 per dolar AS sebelum diperkirakan memperoleh dukungan dari membaiknya pergerakan mata uang kawasan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026