HOME  ⁄  Ekonomi

Pasar Kripto Indonesia Memasuki Fase Lebih Matang, Utilitas dan Tokenisasi Jadi Arah Baru

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pasar Kripto Indonesia Memasuki Fase Lebih Matang, Utilitas dan Tokenisasi Jadi Arah Baru
Foto: (Sumber :CEO Tokocrypto Calvin Kizana dalam panel diskusi bertajuk Go-to-Market Strategy in Asia's Crypto Market di acara Coinfest Asia 2026 pada akhir Agustus. ANTARA/HO Tokocrypto.)

Pantau - Pasar aset kripto Indonesia dinilai mulai memasuki fase lebih matang dengan arah perkembangan bergeser dari dominasi adopsi ritel menuju penguatan utilitas aset digital, keterlibatan investor institusional, dan tokenisasi.

CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengatakan pertumbuhan adopsi ritel selama beberapa tahun terakhir telah menjadikan Indonesia sebagai pasar kripto dengan potensi besar.

"Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi," kata Calvin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Menurut Calvin, perkembangan industri kripto nasional kini tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah pengguna karena tantangan berikutnya adalah memperdalam ekosistem aset digital.

Industri Mulai Membidik Utilitas dan Investor Institusional

Industri kripto Indonesia dinilai perlu mendorong pemanfaatan aset digital secara lebih luas melalui integrasi dengan sektor keuangan, peningkatan partisipasi institusional, serta pengembangan tokenisasi.

"Peluangnya sekarang adalah bergerak dari sekadar adopsi ritel menuju utilitas keuangan yang teregulasi, partisipasi institusional, dan tokenisasi," ujarnya.

Potensi pasar tersebut turut terlihat dalam Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025 yang menempatkan Indonesia di peringkat ketujuh dari 151 negara dalam tingkat adopsi kripto berbasis masyarakat atau grassroots adoption.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menunjukkan jumlah konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta pada Juli 2026.

Nilai transaksi aset kripto pada periode yang sama tercatat mencapai Rp20,52 triliun.

Strategi Pasar Indonesia Dinilai Harus Berbeda

Besarnya jumlah pengguna menunjukkan Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pasar aset digital utama di kawasan, tetapi karakteristik pasar nasional dinilai berbeda dengan negara Asia lainnya.

Calvin menilai pelaku industri global tidak dapat menggunakan strategi yang sama untuk seluruh negara Asia Tenggara karena masing-masing memiliki regulasi, sistem pembayaran, budaya, dan perilaku pengguna yang berbeda.

"Indonesia sangat berbeda dari Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan India. Regulasinya berbeda, perilaku pengguna dan pembayarannya berbeda, budayanya berbeda, ekspektasi konsumennya pun berbeda," katanya.

Perbedaan tersebut membuat strategi pengembangan industri kripto di Indonesia perlu disesuaikan dengan karakter pasar domestik seiring pergeseran industri menuju ekosistem aset digital yang lebih matang.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026