
Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menindaklanjuti peluang kerja sama strategis dengan Amerika Serikat (AS) untuk memperluas akses produk dan industri kreatif Indonesia ke pasar global.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan berbagai subsektor ekonomi kreatif Indonesia berpeluang dikembangkan melalui kolaborasi dengan AS di bidang perdagangan, investasi, teknologi, dan pengembangan industri kreatif.
“Kami sangat membuka pintu bagi kerja sama Indonesia dengan AS di berbagai subsektor, berbagai direktorat di bawah Kementerian Ekraf siap untuk bekerja sama lebih lanjut dengan berbagai pihak di AS untuk memastikan tindak lanjut dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-AS,” ujar Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
AS menjadi salah satu pasar penting bagi produk ekonomi kreatif Indonesia dengan nilai ekspor mencapai 3,31 miliar dolar AS sepanjang Januari-April 2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Kemenekraf.
Ekspor tersebut didominasi subsektor fesyen senilai 2,80 miliar dolar AS, disusul kriya sebesar 480 juta dolar AS dan kuliner sebesar 15,55 juta dolar AS.
Kemenekraf Bidik Penetrasi Produk Kreatif di Pasar AS
Besarnya nilai ekspor tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang untuk memperluas penetrasi produk kreatif Indonesia di pasar AS sekaligus meningkatkan kontribusi subsektor lainnya.
“Melalui kolaborasi strategis dengan Amerika Serikat sebagai mitra kunci, kita tidak hanya membuka jalur ekspor bagi subsektor unggulan seperti fesyen dan kriya, tetapi juga memperluas penetrasi subsektor lainnya untuk memperkuat jangkauan produk kreatif lokal di pasar global,” kata Riefky.
Selain perdagangan, Kemenekraf menjajaki penguatan kerja sama industri kreatif dengan pelaku usaha AS melalui rencana penandatanganan nota kesepahaman dengan Hollywood Chamber of Commerce (HCC).
Kerja sama itu mencakup sembilan bidang strategis, antara lain pengembangan ekonomi kreatif, film, televisi dan produksi media, investasi dan perdagangan, perlindungan kekayaan intelektual dan merek, teknologi dan inovasi, hingga kolaborasi global.
Penandatanganan nota kesepahaman dengan HCC ditargetkan berlangsung di sela-sela World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta pada 21-23 Oktober 2026.
WCCE 2026 Ditargetkan Dihadiri Lebih dari 8.000 Peserta
WCCE 2026 yang mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity” ditargetkan menghadirkan lebih dari 8.000 peserta dari lebih dari 50 negara.
Kemenekraf juga menjajaki kehadiran delegasi tingkat tinggi AS, pelaku industri kreatif, serta perusahaan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI) dalam forum tersebut.
Duta Besar RI untuk AS Dwisuryo Indroyono Soesilo menyatakan pihaknya tertarik terhadap pengembangan ekonomi kreatif Indonesia yang mencakup 21 subsektor.
“Kami berharap dapat mengidentifikasi lebih banyak peluang kolaborasi dan mengembangkan kerja sama konkret untuk bersama-sama memajukan ekonomi kreatif kedua negara,” ujar Indroyono.
Kerja sama ekonomi kreatif Indonesia-AS sebelumnya telah dilakukan melalui sejumlah program, termasuk US Business for Indonesia: Creative Economy Forum 2025, lokakarya perlindungan hak kekayaan intelektual internasional, Hackathon AI for Creative Economy bersama Amazon Web Services, dan pengembangan talenta digital melalui Microsoft.
Kerja sama tersebut menjadi modal Kemenekraf untuk memperluas kemitraan dengan AS sekaligus mendorong produk, talenta, dan kekayaan intelektual kreatif Indonesia masuk ke rantai nilai global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




