HOME  ⁄  Ekonomi

Kadin Mendorong Indonesia dan Swedia Memperkuat Kerja Sama Ekonomi lewat IEU-CEPA dan Aksesi OECD

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kadin Mendorong Indonesia dan Swedia Memperkuat Kerja Sama Ekonomi lewat IEU-CEPA dan Aksesi OECD
Foto: Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino Vega (sumber: Kadin)

Pantau - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguatan kerja sama ekonomi Indonesia dan Swedia dengan memanfaatkan momentum implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) serta proses aksesi Indonesia menuju Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino Vega mengatakan hubungan Indonesia dan Swedia telah memiliki fondasi kuat dari sisi diplomatik maupun ekonomi setelah terjalin selama lebih dari tujuh dekade sejak 1950.

Kerja sama kedua negara terus berkembang dengan mencakup berbagai sektor strategis, antara lain energi, kendaraan listrik, keberlanjutan, pertambangan, kesehatan, dan kehutanan.

Vega menilai hubungan Indonesia dan Swedia memiliki kedalaman dan tidak hanya bersifat seremonial, meski masih tersedia ruang besar untuk meningkatkan kemitraan ekonomi.

“Hubungan kita memiliki kedalaman, bukan sekadar seremonial. Fondasi hubungan ekonomi kita semakin kuat, dan masih ada ruang yang besar untuk berkembang. Tantangannya adalah bagaimana kita meningkatkan kemitraan tersebut,” ungkap Vega.

Perdagangan Indonesia-Swedia Masih Punya Ruang Tumbuh

Saat ini sekitar 80 perusahaan asal Swedia telah beroperasi di Indonesia dan membentuk ekosistem bisnis bersama mitra lokal yang mencakup distributor, pemasok, serta penyedia jasa.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Swedia tercatat sekitar 825 juta dolar AS, masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan perdagangan barang Indonesia dengan Uni Eropa yang mencapai sekitar 27 miliar dolar AS.

Peluang memperbesar hubungan ekonomi dinilai semakin terbuka sejalan dengan ekonomi Indonesia yang tumbuh 5,11 persen pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026.

Indonesia juga memiliki populasi sekitar 283 juta jiwa dan menjadi ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Vega menyebut implementasi IEU-CEPA menjadi peluang strategis pertama yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Swedia.

Perjanjian tersebut mencakup penghapusan sekitar 98,5 persen tarif Indonesia terhadap barang asal Uni Eropa, pembukaan akses jasa komputer dan telekomunikasi, penyederhanaan prosedur kepabeanan, serta penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual.

“Ini merupakan perubahan struktural terbesar di pasar dalam satu dekade terakhir dan implementasinya semakin dekat,” kata Vega.

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 66 persen perusahaan Swedia yang beroperasi di Indonesia memperkirakan CEPA akan meningkatkan prospek bisnis mereka.

Sebanyak 54 persen perusahaan juga mengharapkan penurunan Bea Masuk untuk bahan baku dan produk jadi yang berasal dari Uni Eropa.

Aksesi OECD Buka Peluang Kolaborasi dengan Swedia

Selain IEU-CEPA, Kadin memandang proses aksesi Indonesia menuju OECD sebagai momentum strategis untuk memperkuat kerja sama dengan Swedia.

Vega menilai pengalaman dan keahlian Swedia dapat membantu Indonesia memenuhi berbagai standar yang ditetapkan OECD selama proses aksesi berlangsung.

Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mengajukan keanggotaan OECD, dengan proses teknis komprehensif terkait aksesi telah dimulai pada Juli 2026.

Dalam proses tersebut, sebanyak 26 komite teknis melakukan penilaian terhadap Indonesia berdasarkan berbagai standar OECD.

Penilaian itu mencakup sejumlah bidang kebijakan publik, termasuk perdagangan, investasi, tata kelola, persaingan usaha, dan integritas.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026