HOME  ⁄  Ekonomi

Hilirisasi Timah di Batam Makin Berkembang, Pasta Solder hingga Rantai Pasok GPU Jadi Andalan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Hilirisasi Timah di Batam Makin Berkembang, Pasta Solder hingga Rantai Pasok GPU Jadi Andalan
Foto: Penandatangan nota kesepahaman (MoU) Kerja Sama antara PT Solder Team Andalan Indonesia (STANIA) dengan Asahi Corporation untuk hilirisasi produk timah di Batam, Kepri, Jumat 11/9/2026 (sumber: ANTARA/Angiela)

Pantau - Badan Pengusahaan (BP) Batam menyebut hilirisasi industri timah di Batam, Kepulauan Riau, mulai berkembang ke berbagai produk turunan, termasuk pasta solder untuk memenuhi kebutuhan industri elektronik.

Pasta solder merupakan salah satu produk berbasis timah yang digunakan dalam proses perakitan berbagai komponen elektronik.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan kerja sama PT Solder Team Andalan Indonesia (STANIA) dengan Asahi Solder menjadi bagian penting dalam memperluas hilirisasi komoditas timah di Batam.

"Ini merupakan langkah luar biasa untuk investasi di Batam. Kami melihat hilirisasi timah tidak lagi berhenti pada material, tetapi sudah masuk ke tahap pengolahan menjadi produk yang dibutuhkan industri," kata Ariastuty di Batam, Jumat.

Hilirisasi Timah Berpotensi Dongkrak Ekspor Batam

BP Batam menilai pengembangan industri timah kini tidak lagi hanya berhenti pada penyediaan material, tetapi telah bergerak menuju pengolahan produk lanjutan yang secara langsung dibutuhkan sektor industri.

Menurut Ariastuty, kerja sama tersebut sekaligus menunjukkan semakin beragamnya produk industri yang dapat dikembangkan di Batam.

Pengembangan produk turunan timah juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekspor dengan volume produk diperkirakan mencapai lebih dari 100 ton pada 2027.

"Ini juga akan nantinya ekspor lebih dari 100 ton di tahun 2027 mungkin ya. Kita ekspektasikan dengan pertumbuhan ekonomi akan semakin maju lagi dan semakin tinggi lagi, dan adanya keberagaman produk-produk yang dihasilkan di Batam," ujarnya.

BP Batam menilai diversifikasi produk industri dapat memperkuat struktur perekonomian daerah seiring dengan bertambahnya investasi dan meningkatnya aktivitas manufaktur.

Ariastuty menjelaskan hilirisasi timah di Batam dilakukan dengan mendatangkan material dari luar wilayah untuk kemudian diolah menjadi produk yang selanjutnya diekspor.

"Untuk hilirisasi industri timah di Batam, kan materialnya didatangkan dari luar, masuk di Batam, lalu diolah dan diekspor ke luar jadi kami melihat ada hilirisasi tersebut," kata dia.

Industri Solder Disiapkan Dukung Ekosistem AI

Direktur Utama Arsari Tambang sekaligus Wakil Presiden Direktur Arsari Group Aryo P. S. Djojohadikusumo mengatakan pengembangan produk solder merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok industri elektronik di dalam negeri.

STANIA yang merupakan bagian dari Arsari Tambang berfokus pada pengembangan industri solder dan material pendukung sektor elektronik.

Pengembangan rantai pasok tersebut dinilai semakin penting seiring dengan meningkatnya kebutuhan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Aryo mengatakan pihaknya pada tahun ini juga sedang membangun pabrik pertama di Indonesia untuk perakitan Graphics Processing Unit (GPU).

Pabrik tersebut direncanakan merakit GPU dari sejumlah mitra, termasuk Nvidia dan AMD.

"Tahun ini kami juga sedang membangun pabrik pertama di Indonesia untuk GPU (Graphics Processing Unit) assembling, untuk merakit GPU dari mitra-mitra kami seperti Nvidia dan AMD. Membangun ekosistem AI tidak hanya membutuhkan computing dan connectivity, tetapi juga membutuhkan industri dan supply chain pendukungnya," kata Aryo.

Menurut Aryo, kerja sama dengan Asahi Solder diperlukan untuk mempercepat pembangunan dan pengembangan rantai pasok karena perusahaan tersebut memiliki pengalaman serta kapabilitas internasional di bidang soldering dan electronic interconnect materials.

Kemampuan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan industri material elektronik sekaligus memperkuat rantai pasok teknologi di Indonesia.

Aryo menilai Indonesia perlu mengurangi ketergantungan terhadap harga komoditas dunia dengan membangun ekosistem industri sendiri dari hulu hingga hilir agar memperoleh nilai tambah lebih besar dari hasil tambang.

"Sudah waktunya Indonesia tidak lagi bergantung pada harga dunia, tetapi membangun ekosistem sendiri sehingga nilai tambah dari seluruh hasil tambang Indonesia bisa kita dapatkan. Itu yang kita maksud dari hulu ke hilir," ujarnya.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026