
Pantau - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengajukan tiga langkah untuk memperkuat perdagangan barang dan jasa antarnegara anggota BRICS.
Tiga langkah tersebut mencakup kemudahan mobilitas perusahaan dan tenaga profesional lintas negara, penguatan konektivitas sistem pembayaran, serta peningkatan investasi pada sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung perdagangan jasa.
Anindya menyampaikan usulan tersebut dalam BRICS Business Forum 2026 di New Delhi, India, Jumat, 11 September 2026.
Forum itu turut dihadiri Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Dorong Mobilitas Bisnis dan Integrasi Sistem Pembayaran
Dalam langkah pertama, Anindya mendorong negara-negara BRICS mempermudah mobilitas perusahaan dan tenaga profesional lintas negara.
Menurut Anindya, BRICS Business Council perlu mengidentifikasi berbagai hambatan konkret yang dihadapi dunia usaha ketika menjalankan aktivitas lintas negara.
Setelah hambatan teridentifikasi, BRICS Business Council dinilai perlu menyampaikan usulan penyelesaian secara spesifik kepada pemerintah masing-masing negara anggota.
Salah satu kemudahan yang didorong adalah pengakuan bersama terhadap kualifikasi profesi tertentu di antara negara-negara BRICS.
Kemudahan perjalanan bisnis juga dinilai dapat membantu mempercepat transaksi dan investasi antarnegara anggota.
Anindya turut mengusulkan pengembangan kartu perjalanan bisnis BRICS atau BRICS Business Travel Card untuk mendukung mobilitas pelaku usaha.
Langkah kedua adalah menghubungkan sekaligus memperkuat sistem pembayaran antarnegara BRICS, terutama pembayaran digital.
Anindya menilai India, Brasil, dan China telah menunjukkan besarnya potensi penggunaan sistem pembayaran waktu nyata.
Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem pembayaran dari berbagai negara dapat saling terhubung dan digunakan secara efisien untuk transaksi lintas batas.
Selain meningkatkan konektivitas sistem pembayaran, Anindya mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan yang sesuai.
Penggunaan mata uang lokal tersebut, menurut dia, tetap harus memperhatikan keamanan data dan stabilitas sistem keuangan.
"Kedaulatan finansial tidak harus berarti isolasi finansial," kata Anindya.
Usulan itu sejalan dengan pembahasan BRICS Business Forum mengenai peningkatan konektivitas sistem pembayaran, transaksi menggunakan mata uang lokal, serta pembangunan mekanisme pembayaran lintas batas yang cepat, murah, dan aman.
Investasi SDM dan Infrastruktur Jadi Langkah Ketiga
Langkah ketiga yang diajukan Anindya adalah meningkatkan investasi negara-negara BRICS pada sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur yang menopang perdagangan jasa.
Menurut Anindya, dunia usaha perlu meningkatkan program pelatihan pekerja sekaligus membangun kolaborasi yang lebih kuat dengan perguruan tinggi.
Perusahaan, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), juga perlu mendapatkan bantuan agar mampu memanfaatkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Anindya mengusulkan agar setiap cabang BRICS Business Council mempunyai target terukur mengenai jumlah tenaga kerja yang harus mendapatkan pelatihan setiap tahun.
New Development Bank juga dinilai dapat mengambil peran melalui pembiayaan jaringan digital, program pelatihan, dan pembangunan berbagai infrastruktur pendukung.
Indonesia Didorong Ikut Menentukan Arah BRICS
Anindya menekankan negara anggota baru BRICS seperti Indonesia harus ikut menentukan agenda dan arah kerja sama organisasi tersebut.
Menurut dia, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk maupun perusahaan dari negara-negara yang lebih dahulu bergabung dengan BRICS.
Setiap kemitraan di dalam BRICS dinilai perlu diarahkan untuk membangun dan memperkuat kemampuan domestik masing-masing negara anggota.
Dengan penguatan kemampuan domestik, masyarakat di seluruh negara anggota diharapkan tidak hanya menjadi pengguna jasa, tetapi juga mampu menjadi penyedia jasa.
Anindya menggambarkan integrasi BRICS yang nyata sebagai ekosistem ekonomi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh pelaku usaha mikro dan kecil di berbagai negara.
Dalam gambaran tersebut, pelaku usaha mikro dan kecil dari Surabaya, Sao Paulo, Durban hingga Alexandria dapat menemukan pelanggan, menawarkan jasa, dan menerima pembayaran melalui jaringan ekonomi BRICS yang terintegrasi.
"Itulah ujian bagi integrasi BRICS yang benar-benar bermakna," ungkap Anindya.
Anindya menegaskan Indonesia tidak ingin sekadar menjadi pasar baru, tetapi juga ingin berperan dalam membentuk arah kerja sama ekonomi di antara negara-negara anggota BRICS.
Menurut Anindya, Indonesia kini telah memiliki cabang yang aktif dalam BRICS Business Council sehingga mempunyai kesempatan mendorong agenda strategis di bidang perdagangan, investasi, industri, teknologi, dan jasa.
"Kami sangat senang dan merasa terhormat bahwa Indonesia telah bergabung dengan keluarga BRICS berkat Presiden Prabowo. Indonesia sekarang memiliki chapter yang sangat aktif dalam BRICS Business Council," kata Anindya.
- Penulis :
- Arian Mesa




