
Pantau - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) memanfaatkan teknologi citra satelit untuk mendukung pengembangan industrialisasi tebu di Kawasan Transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan teknologi satelit digunakan untuk membantu pemetaan wilayah serta mengidentifikasi kesesuaian lahan dan tanaman dalam pengembangan pertanian modern.
“Saat ini di Kawasan Transmigrasi Melolo telah berjalan pemanfaatan teknologi satelit untuk mendukung industrialisasi tebu. Ini contoh konkret pertanian modern menggunakan teknologi citra satelit, dengan melibatkan ilmuwan untuk membantu mendeteksi tanaman tebu yang cocok ditanam di sana,” kata Iftitah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Iftitah saat memberikan kuliah umum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Industri Gula Serap Ribuan Tenaga Kerja
Iftitah mengatakan teknologi kedirgantaraan dapat membantu mengatasi keterbatasan geografis kawasan transmigrasi melalui pemanfaatan citra satelit, pemetaan wilayah, hingga penguatan konektivitas.
Teknologi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas kawasan sekaligus mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi dan industrialisasi berbasis potensi lokal.
Kementrans pada Agustus 2025 mencatat industri gula di Melolo menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja tetap dan jumlah pekerja dapat meningkat hingga 6.000 orang ketika memasuki musim panen.
Tebu yang dihasilkan di kawasan tersebut tercatat memiliki rendemen atau kadar gula hingga 21 persen, sedangkan rata-rata nasional sekitar tujuh persen.
Pabrik gula terpadu PT Muria Sumba Manis di Sumba Timur memiliki kapasitas penggilingan sekitar 12 ribu ton tebu per hari dan terintegrasi dengan perkebunan tebu perusahaan.
“Bukan hanya sekadar memindahkan penduduk, tetapi bagaimana kita membangun industrialisasi di luar Pulau Jawa. Dengan adanya industrialisasi, lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan pada akhirnya aktivitas ekonomi serta penerimaan negara juga tumbuh,” ujar Iftitah.
Transmigrasi Diarahkan Jadi Pusat Ekonomi Baru
Iftitah mengatakan kebijakan transmigrasi saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada perpindahan penduduk, tetapi diarahkan untuk membangun kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Melalui program Transmigrasi Patriot, Kementrans juga menjalankan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dengan melibatkan perguruan tinggi dalam kegiatan riset, kajian, pendampingan masyarakat, serta pengembangan potensi ekonomi kawasan.
Pada 2026, Kementrans melepas 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.
Menurut Iftitah, potensi kawasan transmigrasi tidak terbatas pada sektor pertanian, tetapi juga mencakup maritim, pariwisata, industri berbasis sumber daya lokal, serta kegiatan ekonomi lain sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
“Pendekatan transmigrasi saat ini berbeda. Kita menghadirkan SDM unggul, teknologi, dan industrialisasi agar kawasan tumbuh dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ucap dia.
Rektor Unsurya Marsda TNI (Purn) Sungkono mengatakan teknologi kedirgantaraan juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi tantangan konektivitas antardaerah di Indonesia.
“Untuk mewujudkan konektivitas, bukan mengenai jarak, tetapi bagaimana semua urat nadi wilayah, terutama ekonomi, dapat terhubung. Teknologi kedirgantaraan mampu menembus ruang dan jarak dengan cepat dan strategis,” ujar Sungkono.
Sungkono menekankan pemanfaatan teknologi tidak hanya dinilai berdasarkan tingkat kecanggihannya, tetapi juga manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




