HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.614 per Dolar AS, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menekan Pasar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.614 per Dolar AS, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menekan Pasar
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc/aa. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA).)

Pantau - Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Senin (14/9/2026) sebesar 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.614 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.611 per dolar AS, dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah masih berada dalam tekanan seiring pelemahan mayoritas mata uang kawasan, kenaikan harga minyak dunia, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.600 - Rp17.680 dipengaruhi oleh global melemahnya mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Kamis (17/9) minggu ini," ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Senin.

The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga

Rully mengatakan suku bunga The Fed diperkirakan naik 25 basis points (bps) menjadi 4 persen.

Ekspektasi tersebut berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) mengambil kebijakan hawkish dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada pekan berikutnya.

Tekanan terhadap rupiah juga muncul ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun mendekati 5 persen dengan berada pada level 4,96 persen.

Pada saat bersamaan, indeks dolar AS telah menyentuh level 99.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.

Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS per Barel

Selain faktor moneter Amerika Serikat, kenaikan harga minyak mentah global turut memberikan tekanan terhadap kondisi ekonomi domestik.

Rully menilai ruang fiskal pemerintah semakin menyempit untuk mentransmisikan selisih harga minyak karena asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berada pada level 70 dolar AS per barel.

Mengutip Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menembus 100 dolar AS per barel pada Kamis (10/9/2026).

Harga WTI untuk pengiriman Oktober sempat mencapai 100,88 dolar AS per barel atau melonjak 4,83 dolar AS setara 5,03 persen dibandingkan Rabu (9/9/2026).

Posisi tersebut menjadi level tertinggi kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak 20 Mei.

Pergerakan suku bunga The Fed, harga minyak global, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta respons kebijakan BI selanjutnya menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026