HOME  ⁄  Ekonomi

Pertamina Siagakan Dua Kapal Pengangkut BBM untuk Menjaga Pasokan dan Mengurai Antrean di Sulsel

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pertamina Siagakan Dua Kapal Pengangkut BBM untuk Menjaga Pasokan dan Mengurai Antrean di Sulsel
Foto: (Sumber :Suasana antrean panjang yang dijaga aparat kepolisian di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan depan Kantor Gubernur Sulsel, di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (13/9/2026). ANTARA/Darwin Fatir.)

Pantau - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menginstruksikan PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi menambah pasokan BBM subsidi dengan menyiagakan dua kapal pengangkut minyak untuk menjaga ketersediaan sekaligus mengurai antrean di SPBU wilayah Sulawesi Selatan.

Kepala BPH Migas Wahyudi mengatakan stok BBM di Sulsel mencapai sekitar 16.000 kiloliter (KL), sedangkan konsumsi Pertalite berada di kisaran 2.000 KL per hari dan Solar sekitar 1.800 KL per hari.

"Untuk stok di Sulsel sekitar 16.000 KL. Konsumsi Pertalite kurang lebih 2.000-an Kilo Liter (per hari), kita rata-ratakan saja sekitar delapan sampai dengan 16 hari (ketahanan). Untuk solar konsumsinya 1.800 KL (per hari)," kata Wahyudi di Makassar, Senin (14/9/2026).

Dua kapal yang disiagakan akan membawa pasokan dari Kilang Minyak Tuban, Jawa Timur, dan Kilang Minyak Balikpapan, Kalimantan Timur, ketika ketahanan stok mulai berkurang.

"Tapi tergantung, kalau nanti delapan hari (mulai berkurang) maka satu kapal turun, kurang lebih nambah delapan hari (ke depan), dan itu tidak pernah turun (volumenya) di lebih rendah. Untuk solar juga demikian sama," tuturnya.

Pasokan BBM Dikirim Secara Terjadwal

Wahyudi mengatakan satu kapal mampu membawa sekitar 16.000 KL BBM dari kilang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sulawesi Selatan.

Pasokan melalui kapal dilakukan secara kontinu dan terjadwal dari Tuban maupun Balikpapan dengan waktu perjalanan menuju Sulsel kurang dari dua hari.

"Jadi, ini sudah diukur dan sudah dijadwalkan oleh Pertamina Patra Niaga suplainya dari kilang yang ada. Di Kilang Tuban, dan Kilang di Balikpapan. Jadi aman. Perjalanannya berapa hari dari sini?, kurang dari dua hari. Kami sudah pastikan semuanya aman," ucapnya.

Pengiriman BBM dari kedua kilang dilakukan setiap dua hingga tiga hari, termasuk untuk memenuhi kebutuhan Biosolar.

Ketahanan stok BBM saat ini disebut masih dalam kondisi normal dengan rata-rata persediaan sekitar tujuh hingga 12 hari, sedangkan stok BBM nonsubsidi dapat bertahan hingga 30 hari.

Stok Pertalite di Sulsel berdasarkan pengecekan juga disebut masih berada di level 80 persen.

Pengiriman ke SPBU Ditambah di Tengah Antrean

Pertamina menambah pengiriman menjadi dua kali drop order per hari ke SPBU sejak munculnya antrean panjang, dengan setiap mobil tangki membawa sekitar 24 KL BBM.

Wahyudi mengatakan konsumsi Pertalite di sejumlah SPBU meningkat dari sebelumnya sekitar 24 hingga 25 KL per hari menjadi maksimal 51 KL per hari.

"Kalau satu hari itu konsumsinya, sebelum terjadi antrian jualan pertalitenya 24 KL sampai 25 KL per hari. Kalau sekarang, tertinggi bisa mencapai 51 KL (per hari), jadi cukup besar. Dan itu tiap hari (BBM) dikirim," katanya.

BPH Migas meminta masyarakat tidak membeli BBM secara berlebihan karena stok dinyatakan tersedia dan pasokan terus dilakukan.

"Sebenarnya kebutuhannya pas, kalau mengisi untuk dua hari sekali, tidak usah berlebihan. Tadi kita tarik data, kebutuhannya ada 0,6 liter per hari, ada yang satu sampai tiga liter per hari, (di luar transportasi umum) kurang lebih sekitar itu. Kalau nambah berlebihan, itu buat apa," kata Wahyudi.

Sebelumnya, pengemudi bajaj bernama Khalid memprotes pembatasan pembelian BBM subsidi maksimal Rp50 ribu untuk kendaraan roda dua karena kendaraan roda tiganya turut dikenai ketentuan tersebut.

"Saya minta diisi Rp80 ribu supaya bisa jalan cari penumpang satu hari, tapi dibatasi hanya bisa diisi Rp50 ribu. Jelas itu tidak cukup, makanya saya protes, kasihan kita ini driver (pengemudi daring), tapi tidak digubris. Perhatikan juga kami ini pak, harusnya adil," tutur Khalid.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026