HOME  ⁄  Ekonomi

Perajin Gorontalo Pertahankan Karawo Ikat sebagai Warisan Budaya sekaligus Penggerak Ekonomi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Perajin Gorontalo Pertahankan Karawo Ikat sebagai Warisan Budaya sekaligus Penggerak Ekonomi
Foto: (Sumber :Erawati Bouta memperlihatkan kain karawo ikat hasil produksinya pada Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 di Kota Gorontalo, Gorontalo (12/9/2026). (ANTARA/Faradila Alim).)

Pantau - Perajin asal Gorontalo Erawati Bouta mengembangkan karawo ikat sebagai usaha sejak 2023 untuk menjaga warisan budaya sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi perajin di Kabupaten Bone Bolango.

Karawo merupakan sulaman tangan khas Gorontalo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan dua jenis yang dikenal masyarakat, yakni karawo ikat dan karawo manila.

Pembuatan karawo ikat dilakukan sepenuhnya dengan tangan melalui proses mengiris dan mencabut serat kain, mengarahkan benang, hingga mengikatnya sesuai pola untuk membentuk motif.

Erawati mempelajari keterampilan tersebut sejak kecil dari keluarganya dan mulai menekuninya secara lebih serius pada 2019 sebelum mengembangkannya menjadi usaha empat tahun kemudian.

Kini empat perajin yang sebagian besar telah berusia lanjut mengerjakan karawo ikat di rumah Erawati di Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

Karawo Ikat Dikerjakan hingga Tiga Bulan

Satu lembar kain karawo ikat dapat diselesaikan sekitar satu bulan apabila dikerjakan hampir sepanjang hari, tetapi pengerjaannya bisa mencapai tiga bulan apabila diselingi aktivitas lain.

Erawati memberikan upah sekitar Rp400.000 hingga Rp450.000 untuk pengerjaan satu lembar kain kepada perajin.

"Supaya keterampilan mereka betul-betul dihargai," kata Erawati.

Erawati menggunakan kain katun Prince dan benang jahit katun serta menghindari poliester, benang metalik, dan bahan yang mudah rapuh karena dinilai tidak sesuai dengan teknik karawo ikat.

"Tidak pakai poliester. Ini tetap katun," ujarnya.

Satu kain karawo dijual sekitar Rp600.000 hingga Rp1 juta tergantung ukuran, panjang kain, dan tingkat kerumitan motif, sementara harga produk pakaian bertambah sesuai biaya jahit.

Motif Karawo Dipertahankan sebagai Identitas Gorontalo

Erawati mempertahankan karakter dasar motif karawo agar tetap mencerminkan identitas Gorontalo meskipun bentuk dan susunannya berkembang mengikuti kebutuhan.

Motif yang digunakan antara lain bunga, burung, dan pola geometris dengan hasil yang dapat berbeda pada setiap perajin karena seluruh pengerjaannya dilakukan secara manual.

"Pada karawo ikat itu ada rasanya para perajin dalam setiap tusukan dan irisannya karena dibuat manual," katanya.

Karawo ikat dahulu banyak digunakan kalangan kerajaan dan bangsawan dengan benang yang ditenun sendiri, sedangkan saat ini kerajinan tersebut digunakan untuk pakaian dan beragam produk lainnya.

Produk Karawo Ikat Menjangkau Pasar Jepang

Erawati membawa karawo ikat ke Jepang melalui sebuah pameran pada 2023 dan melihat adanya apresiasi terhadap produk yang dibuat dengan tangan.

Upaya membuat karawo ikat menggunakan mesin juga pernah diuji oleh pihak yang mengundangnya, tetapi percobaan tersebut tidak berhasil.

Menurut Erawati, sejumlah tahapan pembuatan karawo ikat masih sulit digantikan mesin, termasuk mengiris serat, menentukan bagian yang dicabut, dan mengikat benang satu per satu.

Erawati kemudian mengembangkan produk berupa sapu tangan karawo yang dikirim ke Jepang dan digunakan antara lain untuk membungkus koin serta hadiah.

Regenerasi Perajin Menjadi Tantangan

Erawati mulai memperkenalkan proses pembuatan karawo kepada siswa SDN 4 Suwawa Tengah untuk mendorong regenerasi di tengah usia sebagian besar perajin yang bekerja bersamanya.

Siswa kelas 4, 5, dan 6 diperkenalkan dengan proses mengiris kain hingga menyulam, sedangkan siswa kelas lainnya mempelajari motif serta membuat produk sederhana seperti gantungan kunci dan hiasan.

Erawati berharap pemerintah ikut mendorong penggunaan dan produksi karawo, termasuk mengajak masyarakat Gorontalo mengenakan produk tersebut secara berkala agar keterampilan perajin tetap lestari dan peluang ekonomi terus berkembang.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026