
Pantau - Pemerintah menargetkan pengembangan budi daya ikan darat tematik di 40.000 lokasi di Indonesia pada periode 2026–2029 untuk memperkuat penyediaan protein yang bersumber dari ikan secara nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menyampaikan target tersebut seusai rapat koordinasi percepatan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih dan budi daya ikan darat tematik di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta.
“Akan dibangun juga budidaya tematik 40.000 lokasi ya. Ada 40.000 lokasi dibangun tematik,” kata Zulhas.
KKP menyebut 40.000 titik budi daya ikan darat tematik tersebut akan tersebar di 500 kabupaten/kota di Indonesia.
Khusus pada 2026, pemerintah menargetkan program tersebut dikembangkan di 4.000 lokasi.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari pada 2 September 2026 mengatakan program itu telah dikembangkan di sekitar 100 lokasi yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Lele dan Nila Jadi Komoditas Utama
Lele dan nila menjadi komoditas utama dalam tahap awal program karena relatif mudah dibudidayakan dan mempunyai masa pemeliharaan yang relatif singkat.
Dalam pelaksanaan program pada 2026, pemerintah desa menjadi penerima program dan dapat melibatkan masyarakat maupun kelompok masyarakat untuk menjalankan kegiatan budi daya.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) juga dapat dilibatkan dalam pengelolaan dan pengembangan program.
Pemerintah telah merancang skema pemasaran hasil produksi melalui koperasi maupun lembaga pengelola.
Hasil panen antara lain dapat dipasarkan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pasar tradisional, pelaku usaha pengolahan, rumah makan, hingga jaringan ritel.
Dalam mekanisme pengusulan calon penerima, KKP mensyaratkan kesiapan lahan yang dimiliki atau berada dalam penguasaan desa maupun kelurahan.
Calon penerima juga harus mempunyai pengelola yang mampu menjalankan kegiatan budi daya ikan.
Penentuan lokasi mempertimbangkan aspek teknis dan infrastruktur, termasuk ketersediaan sumber air, kesesuaian tata ruang, akses jalan, serta jaringan listrik minimal 2.200 volt ampere (VA).
KKP Siapkan 40.000 Unit Mini-RAS
Dalam aspek teknologi, KKP menyiapkan 40.000 unit mini Recirculating Aquaculture System (mini-RAS) untuk mendukung peningkatan produktivitas perikanan di wilayah pedesaan.
Mini-RAS merupakan sistem budi daya yang memungkinkan air diolah dan digunakan kembali dalam proses pemeliharaan ikan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan teknologi tersebut akan diterapkan di ratusan desa yang memiliki potensi sektor perikanan.
“Kami siap mengembangkan 40.000 unit mini-RAS untuk diterapkan di ratusan desa di Indonesia,” kata Trenggono.
Pada tahap awal, teknologi mini-RAS disiapkan untuk budi daya ikan nila dan lele.
Penggunaan teknologi tersebut ke depan dapat diperluas untuk komoditas perikanan lainnya sesuai kebutuhan, karakteristik, dan kesesuaian masing-masing wilayah.
Meski pemerintah menargetkan penyediaan 40.000 unit mini-RAS, dalam rapat koordinasi pada Selasa belum dijelaskan secara terperinci jumlah unit yang akan ditempatkan di setiap lokasi program.
Pemerintah Bidik Ekonomi Perikanan dari Hulu hingga Hilir
Pengembangan budi daya ikan darat tematik tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi ikan nasional, tetapi juga membentuk kegiatan ekonomi perikanan yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Kegiatan di sektor hulu antara lain meliputi pembenihan ikan dan penyediaan pakan, sedangkan sektor hilir mencakup pengolahan hingga pemasaran hasil budi daya.
Melalui konsep tersebut, pemerintah mengarahkan program budi daya ikan darat tematik untuk memperkuat pasokan protein ikan, meningkatkan produksi perikanan, serta membangun aktivitas ekonomi berbasis budi daya di desa-desa Indonesia.
- Penulis :
- Shila Glorya





