
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026) pagi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan lanjutan suku bunga The Fed pada Oktober 2026.
IHSG dibuka turun 9,93 poin atau 0,16 persen menjadi 6.364,98, sedangkan indeks LQ45 melemah 2,55 poin atau 0,40 persen ke posisi 630,63.
“Apabila support 6.347 kembali ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju area 6.290-6.180. Sebaliknya, rebound perlu mengembalikan IHSG ke atas 6.422–6.451, kemudian 6.463 sebagai resistance berikutnya. Jika berhasil melewati area tersebut, IHSG berpeluang menguji 6.552–6.591, sebelum menuju area 6.723,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Pasar Mencermati Kebijakan The Fed
Liza mengatakan perhatian pasar global tertuju pada kebijakan The Fed setelah S&P Global Composite PMI Amerika Serikat (AS) naik menjadi 58,4 pada September 2026 atau tertinggi sejak Juli 2021.
Indeks harga input AS juga disebut meningkat ke level tertinggi sejak Oktober 2022.
Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan risiko terhadap pencapaian target inflasi AS sebesar 2 persen telah meningkat dan penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan.
CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober 2026 mencapai 60 persen, sedangkan peluang kenaikan pada Desember berada di sekitar 48 persen.
Pelaku pasar juga mencermati ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran, termasuk perkembangan terkait diplomasi serta Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent kembali menembus 100 dolar AS per barel setelah sebelumnya melemah selama lima sesi berturut-turut.
Selain itu, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington turut menjadi perhatian karena berpotensi membahas perdagangan dan hubungan bilateral AS-China.
BI Perkuat Stabilisasi Rupiah
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menilai tingkat suku bunga acuan saat ini masih memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan kondisi higher for longer di AS.
BI juga memperkuat stabilisasi melalui insentif biaya hedging untuk mendorong aliran modal asing masuk dan bertahan di pasar domestik.
Insentif lebih besar diberikan untuk tenor hedging yang lebih panjang, termasuk melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna meningkatkan pasokan dolar AS di pasar domestik.
Pemerintah juga tengah menyiapkan penyesuaian skema insentif pajak setelah masa pengajuan fasilitas tax holiday berdasarkan PMK 130/2020 berakhir pada 31 Desember 2025 dan seiring penerapan Global Minimum Tax (GMT) bertarif minimum 15 persen.
Skema alternatif yang dipertimbangkan antara lain pembebasan bea masuk untuk produk tertentu, pembebasan pajak atas jenis barang tertentu, serta fasilitas bagi transaksi tertentu.
Bursa Eropa ditutup melemah pada Rabu (23/9/2026), dengan Euro Stoxx 50 turun 0,38 persen, FTSE 100 melemah 0,03 persen, DAX terkoreksi 0,66 persen, dan CAC 40 turun 0,39 persen.
Wall Street juga melemah dengan S&P 500 turun 0,70 persen menjadi 7.709,62, Nasdaq Composite terkoreksi 1,10 persen menjadi 26.936,04, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,70 persen menjadi 51.512,42.
Pada perdagangan Asia Kamis pagi, Nikkei menguat 1,54 persen, Shanghai naik 0,59 persen, Kospi menguat 0,90 persen, dan Straits Times naik 0,06 persen, sedangkan Hang Seng melemah 0,49 persen.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




