HOME  ⁄  Ekonomi

CCEPC Indonesia Mendorong Pengembangan Sampah Menjadi Energi dan Penguatan Talenta Lokal

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

CCEPC Indonesia Mendorong Pengembangan Sampah Menjadi Energi dan Penguatan Talenta Lokal
Foto: (Sumber :Sejumlah perwakilan CCEPC Indonesia mengikuti ajang Energy Week 2026. ANTARA/HO-CCEPC Indonesia.)

Pantau - PT CCEPC Environment Protection and Energy Comprehensive Utilization Indonesia (CCEPC Indonesia) mendorong pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) sekaligus penguatan talenta lokal untuk mendukung transisi energi dan industri berkelanjutan.

Engineering Consultant CCEPC Indonesia Daffa Khairi mengatakan perusahaan mendorong proses lokalisasi secara bertahap dari sisi penerapan teknologi maupun pengembangan sumber daya manusia.

"Harapannya, pengalaman yang sudah kami terapkan secara global dapat dikembangkan bersama dengan entitas di Indonesia. Proses ini juga menjadi bagian dari upaya kami untuk meningkatkan kemampuan talenta lokal dan melakukan lokalisasi terhadap teknologi yang kami bawa," kata Daffa dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Daffa menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam diskusi Energy Week 2026 yang merupakan agenda tahunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Teknologi WTE Disesuaikan dengan Kebutuhan Indonesia

CCEPC Indonesia membahas penerapan teknologi pembangkit dan waste to energy untuk mendukung pengembangan energi berkelanjutan dengan mempertimbangkan keandalan, keterjangkauan, dampak lingkungan, dan kesiapan teknologi.

Menurut Daffa, CCEPC memiliki lima bidang utama yang meliputi Clean Energy Utilization, Solid Waste Treatment, Flue Gas Treatment, Wastewater Treatment, dan Environmental Restoration.

CCEPC Indonesia juga mendorong penyesuaian teknologi yang telah digunakan secara global dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia.

"CCEPC Indonesia hadir untuk berbagi pengalaman dari proyek-proyek yang telah kami jalankan secara global. Namun, pengalaman tersebut juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia. Pada saat yang sama, kami ingin meningkatkan kapabilitas talenta lokal, baik dalam penyediaan solusi engineering maupun operasional proyek," ujarnya.

Perusahaan turut terlibat dalam Waste-to-Energy Conversion Conceptual Design Competition yang menghadirkan 10 finalis dari berbagai institusi riset dan perguruan tinggi di Indonesia.

Implementasi Teknologi Perlu Didukung Ekosistem

ESG & Business Sustainability Senior Specialist CCEPC Indonesia Aie Natasha yang menjadi salah satu juri kompetisi menilai inovasi perlu dilihat dari sisi konsep teknologi sekaligus kesiapan implementasinya.

Menurut Aie, teknologi baru perlu mempertimbangkan integrasi dengan ekosistem yang sudah berjalan, risiko implementasi, kesiapan model bisnis, serta pihak yang akan menggunakan hasil teknologi tersebut.

"Ketika sebuah teknologi masuk ke ekosistem yang sudah berjalan, tentu ada berbagai risiko dan perhitungan yang perlu diperhatikan. Kita perlu melihat bagaimana teknologi itu dapat terintegrasi dengan sistem yang sudah ada dan seperti apa risiko implementasinya," ujar Aie.

Ia mengatakan kesiapan ekosistem menjadi perhatian karena teknologi atau pendekatan baru belum tentu memiliki sistem pendukung yang sepenuhnya terbentuk.

"Karena itu, perlu dipikirkan sejak awal siapa yang akan menjadi offtaker dan seperti apa rencana pengembangan proyek tersebut ke depan," katanya menambahkan.

CCEPC Indonesia menilai transisi energi membutuhkan teknologi yang memiliki nilai tambah, dapat dioperasikan secara efektif, dan mampu menjawab kebutuhan di lapangan.

Partisipasi perusahaan dalam Energy Week 2026 juga diarahkan untuk memperkuat pertukaran pengetahuan antara industri, akademisi, lembaga riset, pemerintah, dan generasi muda.

CCEPC Indonesia berharap pertukaran pengetahuan tersebut dapat membuka lebih banyak ruang bagi talenta Indonesia untuk mengembangkan teknologi energi dan lingkungan yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026