HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.903 per Dolar AS Dipengaruhi Meredanya Ketegangan AS-China

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp17.903 per Dolar AS Dipengaruhi Meredanya Ketegangan AS-China
Foto: (Sumber :Arsip foto - Petugas menghitung mata uang rupiah. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc/pri.)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.903 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), dari sebelumnya Rp17.916 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai penguatan rupiah dipengaruhi membaiknya hubungan antara AS dan China.

“Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Mengutip Anadolu, Bessent menyampaikan AS dan China memperpanjang peredaan ketegangan ekonomi, sementara Washington juga mengisyaratkan kemungkinan adanya pengumuman lanjutan dari delegasi China.

Pengumuman tersebut disampaikan setelah Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengadakan pertemuan yang sebelumnya tidak terjadwal di Washington.

Kebijakan The Fed Turut Jadi Sentimen Pasar

Pergerakan rupiah turut dipengaruhi perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Presiden The Fed wilayah New York John Williams menyatakan inflasi perlu dikembalikan ke target dalam waktu yang tepat sehingga kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun dinilai memungkinkan.

Presiden The Fed wilayah Cleveland Beth Hammack juga menyoroti risiko inflasi yang bertahan tinggi.

“Semakin lama inflasi tetap tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target,” kata Hammack.

Data Ekonomi AS Jadi Perhatian

Sentimen pasar juga berasal dari data Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global AS yang mencatat PMI Komposit naik ke level 58,4 pada September.

Data klaim awal tunjangan pengangguran AS juga turun menjadi 197 ribu pada pekan yang berakhir 19 September, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 201 ribu.

Selain hubungan AS-China, perkembangan hubungan AS dan Iran turut menjadi perhatian setelah kedua negara disebut menjajaki penyelesaian konflik secara bertahap yang mencakup isu Selat Hormuz dan blokade ekonomi terhadap Iran.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia bergerak melemah menjadi Rp17.917 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.898 per dolar AS.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026