
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026) melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.903 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai pelemahan rupiah dipengaruhi data penjualan barang tahan lama AS yang lebih kuat dari perkiraan serta meningkatnya imbal hasil obligasi dan harga minyak dunia.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia dan prospek kenaikan suku bunga The Fed menyusul data ekonomi AS (penjualan barang tahan lama) yang lebih kuat, serta penolakan proposal Iran oleh AS,” ucapnya di Jakarta, Senin.
Data penjualan barang tahan lama AS tercatat tidak berubah atau 0 persen, lebih tinggi dibandingkan perkiraan penurunan 0,4 persen.
Xinhua melaporkan pesanan baru barang tahan lama buatan AS pada Agustus berada di angka 338,6 miliar dolar AS.
Imbal Hasil Obligasi dan Harga Minyak Meningkat
Berdasarkan data yang dikutip Lukman, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun berada di level 5,2 persen, sedangkan tenor 30 tahun mencapai 5,52 persen.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 94,15 dolar AS per barel dan Brent sekitar 103,2 dolar AS per barel.
Lukman juga memasukkan perkembangan hubungan AS-Iran sebagai salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Pasar Cermati Kebijakan The Fed
Investor turut mencermati prospek kebijakan Federal Reserve yang lebih hawkish di tengah data ekonomi AS yang lebih kuat.
Data ekonomi dan komentar sejumlah pembuat kebijakan The Fed memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga dapat bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Mengacu pada sejumlah sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




