
Pantau - Masyarakat adat Malind dari tiga kampung di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, mengirim perdana 14,5 ton kopra ke Surabaya, Jawa Timur, sebagai bagian dari pengembangan potensi kelapa untuk memperkuat perekonomian masyarakat setempat.
Pengiriman dilakukan pada 24 Agustus 2026 setelah masyarakat mengumpulkan dan mengolah komoditas kelapa selama sekitar enam bulan.
Kopra berasal dari Kampung Matara, Waninggap Nanggo, dan Urumb yang dikumpulkan melalui Koperasi Yora Mekhande Jaya dengan pendampingan Yayasan EcoNusa.
Program Associate Yayasan EcoNusa di Merauke Moses Ramsis Boi mengatakan kelapa kini menjadi salah satu sumber ekonomi penting bagi masyarakat adat Malind.
“Komoditas kelapa kini menjadi tumpuan ekonomi yang sangat krusial bagi masyarakat adat Malind di ketiga kampung tersebut, terutama ketika hasil tangkapan laut dan rawa sedang tidak menentu,” kata Moses.
Produksi Kopra Kembali Dikembangkan
Produksi kopra di Kampung Matara sebelumnya pernah berlangsung pada 2000–2010, tetapi kemudian ditinggalkan karena harga komoditas yang tidak stabil.
Masyarakat setelah itu lebih banyak menjual kelapa dalam bentuk utuh kepada pengepul.
EcoNusa mulai mendampingi pengembangan kembali produksi kopra pada awal 2026 melalui Koperasi Yora Mekhande Jaya.
Koperasi tersebut membeli hasil produksi secara langsung dari petani, memberikan pendampingan untuk meningkatkan kualitas, serta menyediakan gudang penampungan.
Sejak program dimulai pada 26 Januari 2026, jumlah pengolah kopra meningkat dari lima menjadi 25 orang.
Pada akhir Januari hingga April, kopra yang terkumpul mencapai sekitar 15 ton, tetapi setelah penimbangan ulang tercatat 12.461 kilogram karena masih memiliki kadar air tinggi.
Ketua Koperasi Yora Mekhande Jaya Jamina Rineke Rumbewas menyebut Kampung Matara memiliki sekitar 6.000 pohon kelapa di sekitar kampung, belum termasuk pohon yang berada di dusun masyarakat.
Pemuda Kembali Kelola Kebun Kelapa
Pengembangan kopra juga mendorong masyarakat kembali mengelola kebun kelapa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Ketua UMKM Sinai Kampung Urumb Sumarni Kaize mengatakan sejumlah pemuda yang sebelumnya bekerja sebagai buruh truk dan penggali pasir pantai mulai beralih menjadi pengolah kopra.
“Mereka mulai kembali merawat dusun kelapa, memanen hasil bumi sendiri, hingga aktif menanam bibit pohon kelapa baru,” kata Sumarni.
Meski memiliki potensi pengembangan yang besar, petani masih menghadapi sejumlah kendala berupa akses pasar, fluktuasi harga, kualitas kopra, biaya logistik, serta keterbatasan modal tunai.
Pengumpulan kopra tahap kedua pada 2026 telah dimulai sejak awal September dengan target pengiriman lebih besar serta penjajakan pengembangan komoditas serupa di kampung lain di Kabupaten Merauke.
- Penulis :
- Aditya Yohan




