
Pantau - Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan penyaluran KPR Subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dalam tiga bulan terakhir 2026.
Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho mengatakan realisasi penyaluran FLPP saat ini mencapai 160.070 unit atau 45,73 persen, terdiri atas 160.053 rumah tapak dan 17 rumah susun.
“Berdasarkan data kami, terdapat potensi data demand atau peminatan sebanyak 48.679 unit. Jika hal tersebut tercapai, maka total capaian dapat mencapai 208.749 unit,” ujar Heru di Jakarta, Senin (28/9/2026).
BP Tapera Petakan Ketersediaan dan Peminatan Rumah
BP Tapera telah memetakan supply atau ketersediaan hunian dan demand atau peminatan bersama mitra kerja untuk mengejar realisasi FLPP hingga akhir 2026.
Berdasarkan pemetaan tersebut, ketersediaan hunian masih mengalami surplus dibandingkan peminatan.
Data itu bersumber dari sistem BP Tapera yang memperoleh informasi dari pelaku bisnis berupa kombinasi kavling, booking, dan ready stock.
BP Tapera juga melihat calon debitur fix income seperti aparatur sipil negara (ASN), pekerja swasta, dan buruh dengan pendapatan tetap memiliki potensi lebih besar untuk lolos proses verifikasi perbankan.
Pemetaan wilayah dengan potensi peminatan, komitmen pendanaan bank penyalur, serta peningkatan kolaborasi dengan mitra kerja menjadi bagian dari strategi yang dijalankan dalam tiga bulan terakhir 2026.
“Kita juga melihat dari sisi supply, ready stock yang dilaporkan oleh pengembang juga perlu juga untuk dikejar. Termasuk dengan Rumah Susun yang diimbangi dengan permintaan,” katanya.
Kolaborasi Data Diperkuat hingga Akhir Tahun
Heru mengatakan optimalisasi penyaluran FLPP membutuhkan kolaborasi data yang lebih intensif antara pengembang, bank penyalur, dan BP Tapera.
Sinkronisasi tersebut diharapkan dapat mengurangi kesenjangan data antara ketersediaan hunian dan permintaan sekaligus meningkatkan realisasi pembiayaan.
Heru mengatakan capaian FLPP pada 2026 menunjukkan pertumbuhan apabila dibandingkan secara on year per bulan dengan tahun sebelumnya.
“Realisasi tahun 2025 pada dasarnya juga didorong keterbatasan kuota pada tahun 2024. Realisasi tersebut memperoleh carry over dari tahun sebelumnya,” ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




