
Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.915 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (1/10/2026), dipengaruhi peningkatan data Automatic Data Processing (ADP) Employment Change AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan data ADP Employment Change AS pada September 2026 meningkat menjadi 90 ribu dari 38 ribu pada bulan sebelumnya.
“Data tersebut menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS, sehingga turut mendukung permintaan terhadap dolar AS,” ujar Josua.
Rupiah sebelumnya ditutup pada level Rp17.894 per dolar AS.
Inflasi AS Lebih Rendah dari Ekspektasi
Indikator inflasi yang menjadi salah satu acuan Federal Reserve (The Fed), yakni Personal Consumption Expenditures (PCE), tercatat lebih rendah dibandingkan ekspektasi.
PCE Price Index pada Agustus 2026 tetap berada di level 3,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan konsensus sebesar 3,7 persen yoy.
Sementara itu, Core PCE Price Index tidak berubah pada level 3,0 persen yoy, juga lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebesar 3,3 persen yoy.
Dari dalam negeri, Josua menyebut rupiah memperoleh sentimen positif dari ketegasan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Pernyataan tersebut memberikan reassurance kepada investor terkait prospek stabilitas rupiah,” ujar dia.
Rupiah Diproyeksikan Bergerak Rp17.825-Rp17.925
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Agustus 2026 dan inflasi September 2026 pada Kamis.
Josua memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia meningkat dari 0,12 miliar dolar AS pada Juli menjadi 0,93 miliar dolar AS pada Agustus 2026 dengan dukungan kenaikan harga komoditas.
“Kami memperkirakan surplus neraca perdagangan meningkat dari 0,12 miliar dolar AS pada Juli 2026 menjadi 0,93 miliar dolar AS pada Agustus 2026, didukung oleh kenaikan harga komoditas. Sementara itu, inflasi headline diperkirakan meningkat menjadi 3,35 persen yoy pada September 2026 dari 3,19 persen yoy pada bulan sebelumnya, didorong oleh kenaikan harga volatile dan administered prices,” kata Josua.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Josua memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.825 hingga Rp17.925 per dolar AS.
- Penulis :
- Aditya Yohan




