
Pantau - Hilirisasi mineral dinilai perlu diarahkan lebih jauh dari sekadar pembangunan fasilitas pengolahan agar kekayaan sumber daya alam Indonesia mampu menciptakan industri, lapangan pekerjaan, penerimaan negara, penguasaan teknologi, dan nilai tambah di dalam negeri.
Pandangan tersebut disampaikan Ali Ahmudi dalam tulisannya mengenai kedaulatan industri sebagai hasil dari hilirisasi yang diterbitkan Kamis (1/10/2026).
Menurut Ali, kekayaan sumber daya alam tidak secara otomatis menjadikan suatu negara kuat secara ekonomi apabila mineral lebih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Kebijakan hilirisasi disebut menjadi upaya mengubah posisi Indonesia dalam rantai ekonomi global dari pemasok bahan mentah menjadi negara yang memiliki kemampuan mengolah dan menghasilkan produk bernilai lebih tinggi.
Keberhasilan Hilirisasi Tak Hanya Diukur dari Smelter
Ali menilai keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur berdasarkan jumlah smelter yang dibangun atau nilai ekspor produk olahan, tetapi juga panjang rantai nilai yang berhasil diciptakan di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam tulisan tersebut, sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan II 2026 menyumbang Rp229,9 triliun atau sekitar 8,87 persen terhadap produk domestik bruto Indonesia.
Manfaat pengelolaan sumber daya alam disebut dapat disalurkan kepada masyarakat melalui pajak, penerimaan negara bukan pajak, bagi hasil, penciptaan pekerjaan, pertumbuhan kegiatan usaha, dan perkembangan industri domestik.
Bauksit menjadi salah satu contoh potensi peningkatan nilai karena komoditas tersebut disebut bernilai sekitar 40 dolar AS per metrik ton, tetapi setelah diproses menjadi alumina dan selanjutnya aluminium nilainya dapat mencapai sekitar 3.400 dolar AS per ton.
Proses tersebut turut melibatkan investasi, energi, teknologi, tenaga kerja, jasa logistik, pembiayaan, dan pengetahuan teknik yang dapat menciptakan aktivitas ekonomi lanjutan.
Aluminium juga menjadi bahan baku bagi sektor konstruksi, transportasi, kelistrikan, hingga industri energi baru terbarukan seperti panel surya.
Industri Pengolahan Perlu Terhubung dengan Ekonomi Lokal
Hilirisasi juga dinilai perlu menghubungkan industri pengolahan mineral dengan pemasok lokal, lembaga pendidikan, pusat penelitian, perusahaan teknologi, industri manufaktur, hingga pelaku UMKM.
Keterhubungan tersebut dinilai dapat memperluas dampak ekonomi melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja, tumbuhnya pemasok domestik, dan munculnya pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam tulisan itu disebutkan Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID mencatat generated economic value sebesar Rp185,16 triliun sepanjang 2025.
Pada periode yang sama, distributed economic value MIND ID disebut mencapai Rp180,30 triliun yang dialirkan kepada negara, pekerja, mitra usaha, investor, dan masyarakat.
Hilirisasi Diminta Tetap Jaga Keberlanjutan
Ali juga menekankan hilirisasi harus dijalankan dengan memperhatikan keberlanjutan agar peningkatan nilai ekonomi tidak menimbulkan beban lingkungan dan sosial bagi generasi berikutnya.
Industrialisasi berbasis mineral dinilai perlu menjadi momentum untuk meningkatkan tata kelola, efisiensi energi, teknologi produksi, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
Indonesia disebut memiliki modal berupa cadangan mineral strategis dan pasar domestik yang besar, tetapi keunggulan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kemampuan industri yang berkelanjutan.
Hilirisasi pada akhirnya dipandang bukan sebatas menghentikan ekspor bahan mentah, melainkan membangun rantai industri yang menghasilkan teknologi, pekerjaan, penerimaan negara, dan kesempatan ekonomi di dalam negeri.
- Penulis :
- Aditya Yohan




