HOME  ⁄  Ekonomi

PLN EPI Genjot Biomassa dari Desa lewat Biodes, Targetkan Pengembangan hingga 100 Desa

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

PLN EPI Genjot Biomassa dari Desa lewat Biodes, Targetkan Pengembangan hingga 100 Desa
Foto: (Sumber :Program inovasi pemanfaatan biomassa berbasis masyarakat di desa atau Biodes dari PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). ANTARA/HO-PT PLN EPI.)

Pantau - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meningkatkan pemanfaatan biomassa berbasis masyarakat melalui inovasi Biomassa dari Desa atau Biodes yang ditargetkan berkembang hingga 100 desa untuk memperkuat pasokan biomassa bagi program cofiring pembangkit.

Program tersebut mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, pemberdayaan masyarakat, dan rantai pasok untuk mendukung transisi energi sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Inovasi Biodes merupakan wujud komitmen PLN EPI dalam membangun ekosistem biomassa yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, serta rantai pasok yang terkelola, kami berupaya menghadirkan pasokan biomassa yang berkualitas dan berkelanjutan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung transisi energi Indonesia,” ujar Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan di Jakarta, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Biodes Optimalkan Limbah dan Tanaman Energi

Biodes dikembangkan dengan memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, serta tanaman energi yang dibudidayakan pada lahan kering atau marjinal.

Melalui program tersebut, desa tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi masuk dalam ekosistem produksi dan rantai pasok yang melibatkan petani, BUMDes, pemasok, hingga pembangkit listrik.

Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2022 yang digunakan dalam pengembangan Biodes, potensi biomassa berbasis limbah siap pakai diperkirakan mencapai titik jenuh sekitar 2,4 juta ton.

PLN EPI mencatat masih terdapat kesenjangan pasokan sekitar 7,6 juta ton untuk memenuhi target cofiring dalam RUPTL 2025–2034.

Mamit mengatakan Biodes menerapkan enam pendekatan utama berupa optimalisasi potensi biomassa desa, penanaman tanaman energi dengan pola tumpang sari, pengembangan rantai pasok berbasis spoke-hub, peningkatan kualitas dan kuantitas biomassa, digitalisasi berbasis marketplace, serta integrasi desa dengan industri.

“Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, Biodes juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan, sehingga aspek keberlanjutan pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa,” ujar Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI Khalda Az Zahra.

Cilacap Jadi Lokasi Implementasi Awal

Implementasi awal Biodes dikembangkan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak 2023 dengan memanfaatkan lahan seluas 106 hektare.

Program dijalankan secara bertahap mulai dari survei dan sosialisasi, penerapan pertanian terpadu, panen dan pengumpulan hasil pada subhub, produksi biomassa melalui BUMDes, hingga pengiriman ke PLTU Adipala.

PLN EPI kemudian memperkuat ekosistem tersebut melalui digitalisasi dan model subhub serta hub untuk mengumpulkan, mengolah, dan mengonsolidasikan biomassa sebelum dikirim ke pembangkit.

Menurut Mamit, Biodes diproyeksikan menghasilkan tambahan pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun, melibatkan 330 petani, memanfaatkan 106 hektare lahan marjinal, serta menciptakan 25 lapangan kerja baru.

Program tersebut juga diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan kepada petani kecil hingga Rp100.000 per hari per pekerja dan berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 6.750 ton CO2e.

PLN EPI merencanakan perluasan Biodes ke desa-desa di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur sebelum dikembangkan bersama mitra pemasok di luar Pulau Jawa serta diperluas ke berbagai lokasi PLTU cofiring.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026