
Pantau - PT Pertamina (Persero) membina sebanyak 428 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor batik sebagai upaya melestarikan warisan budaya nasional sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Saat ini, sebanyak 428 UMKM batik menjadi bagian dari binaan Pertamina, dengan pendampingan yang mencakup penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk hingga perluasan akses pasar," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron.
Pertamina menilai pemberdayaan UMKM tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas bisnis, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang dan mencapai kemandirian.
Batik dipandang menjadi salah satu contoh pelestarian budaya yang dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Bagi Pertamina, batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin memastikan semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usahanya," ujar Baron.
UMKM Batik Binaan Catat Omzet hingga Rp150 Juta
Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2026, Pertamina terus mendorong pertumbuhan UMKM batik di berbagai daerah Indonesia.
Salah satu binaannya adalah Roona Batik di Bantul, Yogyakarta, yang dikelola Muhammad Syauki dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 lembar per bulan dan omzet sekitar Rp100 juta per bulan.
Roona Batik melibatkan 18 pekerja dalam kegiatan usahanya dengan sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
UMKM binaan lainnya di Yogyakarta adalah Batik Jinggar yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih dengan mengembangkan batik melalui berbagai inovasi motif dan desain.
Batik Jinggar mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan dan mempekerjakan delapan orang, termasuk dua penyandang disabilitas.
Di Riau, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengembangkan produk batik tulis dengan mengangkat kekayaan budaya daerah.
Usaha tersebut mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dengan delapan pekerja yang lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
Program Batik Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pertamina juga memberikan ruang berkarya kepada penyandang disabilitas melalui program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah.
Program tersebut memberikan pengembangan keterampilan membatik sekaligus diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi dan sosial peserta.
Baron menilai keterlibatan penyandang disabilitas dalam ekosistem UMKM menunjukkan praktik inklusivitas dapat berkembang melalui kegiatan ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan dan akses pasar, batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian. Inilah semangat yang terus kami dorong melalui pembinaan UMKM Pertamina," katanya pula.
Pertamina Dorong UMKM Batik Naik Kelas
Pembinaan UMKM batik tersebut menjadi bagian dari komitmen Pertamina sebagai BUMN energi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengembangan kewirausahaan, dan penguatan industri kreatif.
Melalui pembinaan berkelanjutan, UMKM batik didorong untuk melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan skala dan kualitas usaha serta memperluas akses pasar.
"Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Pertamina terus mendorong UMKM agar tidak hanya mampu mempertahankan warisan budaya, tetapi juga naik kelas, memperluas pasar, dan menciptakan manfaat ekonomi yang semakin luas," ujar Baron pula.
- Penulis :
- Shila Glorya




