
Pantau - Pemerintah menjadikan transisi energi hijau dan pembangunan digital sebagai mesin ganda atau twin engine untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing investasi Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan sinergi energi bersih dan infrastruktur digital menjadi bagian penting dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi antara ketersediaan energi bersih yang terjangkau dan akselerasi infrastruktur digital menjadi kunci utama menciptakan iklim investasi berdaya saing global sekaligus mempercepat pencapaian target pertumbuhan jangka panjang,” kata Haryo dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Pemerintah memperkirakan investasi nasional perlu tumbuh 8–9 persen untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027.
Kebutuhan penanaman modal untuk mencapai target tersebut diperkirakan mencapai Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun.
Kebutuhan Listrik Diproyeksikan Capai 800 TWh
Haryo mengatakan keandalan energi hijau menjadi prasyarat untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia yang diproyeksikan mencapai 700–800 terawatt-jam (TWh) pada 2030.
Proyeksi tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kapasitas pembangkit hingga 100 gigawatt (GW) peak berbasis energi terbarukan.
Percepatan transisi energi juga ditopang pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer-sirkuit untuk menjamin pasokan listrik bagi industri dan pusat data atau data center.
Pemerataan energi dilakukan melalui program Listrik Desa yang telah menjangkau 1.505 lokasi pada 2025 dan ditargetkan mencakup 4.390 lokasi pada 2026.
Program tersebut ditargetkan mendorong rasio elektrifikasi hingga di atas 99 persen dengan indeks ketahanan energi meningkat menjadi 7,13.
Hilirisasi Mineral Perkuat Ekonomi Hijau
Pemerintah menilai kekayaan mineral strategis berupa nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara membuka peluang untuk mempercepat pengembangan ekonomi hijau.
Program hilirisasi berbasis energi bersih diproyeksikan meningkatkan nilai tambah, termasuk melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang disebut berpotensi menghasilkan nilai tambah hingga 67 kali lipat.
Permintaan global terhadap ekosistem kendaraan listrik diperkirakan mencapai 5,91 triliun dolar AS pada 2045.
Haryo mengatakan kekayaan mineral kritis dan potensi bahan baku panel surya seperti pasir silika turut memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Momentum ini berhasil menarik minat kemitraan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada untuk berkolaborasi dalam pengembangan teknologi transisi energi dan diversifikasi rantai pasok mineral kritis global di Indonesia,” kata dia.
Pemerintah Dorong Pembiayaan Hijau dan Penguatan SDM
Pemerintah mendorong pemanfaatan sejumlah skema pembiayaan hijau seperti green bonds, blended finance, JETP, dan AZEC untuk mendukung transisi energi.
Pembiayaan tersebut diselaraskan dengan peningkatan kualitas tenaga kerja melalui perluasan Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi dan Program Vokasi guna memenuhi kebutuhan industri hijau.
“Optimalisasi potensi energi hijau dan digitalisasi secara terpadu merupakan golden moment bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai tuan rumah energi dan pemain utama transisi energi global,” kata Juru Bicara Haryo.
Pemerintah optimistis pembiayaan inovatif dan penyiapan sumber daya manusia berkualitas dapat mempercepat pencapaian target emisi nol bersih sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




