
Pantau - Perum Bulog Cabang Cirebon, Jawa Barat, memastikan penyerapan gabah petani terus berlangsung hingga akhir 2026 dengan harga pembelian Rp6.500 per kilogram melalui skema Public Service Obligation (PSO), meskipun saat ini bukan periode panen raya.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga penyerapan hasil produksi petani sekaligus memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) melalui pengelolaan persediaan beras di wilayah operasional Bulog Cirebon.
Kepala Perum Bulog Cabang Cirebon, Abdillah Luhur Nuratmaja, menjelaskan bahwa potensi produksi padi pada Oktober 2026 di wilayah kerjanya diperkirakan mencapai 108.000 ton.
Potensi produksi tersebut tersebar di empat wilayah operasional, yakni Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka.
“Selama potensi produksi masih ada dan harga gabah masih bisa dibeli dengan skema Public Service Obligation (PSO), penyerapan akan tetap berjalan sampai akhir tahun,” kata Abdillah di Cirebon, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, kegiatan pembelian gabah akan terus disesuaikan dengan ketersediaan hasil panen petani di masing-masing daerah sehingga volume penyerapan dapat berbeda antarwilayah.
Bulog Cirebon Sudah Serap 300 Ribu Ton Gabah, Dekati Target 340 Ribu Ton
Abdillah mengungkapkan bahwa realisasi penyerapan gabah Perum Bulog Cabang Cirebon sepanjang 2026 telah mencapai sekitar 300.000 ton setara gabah.
Jumlah tersebut setara dengan 88,24 persen dari target prognosa penyerapan sebanyak 340.000 ton yang ditetapkan untuk tahun 2026.
Dengan capaian tersebut, Bulog Cabang Cirebon masih memiliki selisih sekitar 40.000 ton untuk memenuhi target penyerapan tahunannya.
Peluang penambahan volume pembelian masih terbuka hingga Desember 2026 dengan mempertimbangkan ketersediaan produksi padi di wilayah operasional.
Sementara itu, secara nasional penyerapan gabah dan beras oleh Bulog hingga 8 Oktober 2026 telah mencapai 4,1 juta ton.
Realisasi tersebut melampaui target pemerintah sebesar 4 juta ton sepanjang 2026, dengan kelebihan penyerapan mencapai 100.000 ton atau sekitar 2,5 persen.
Capaian nasional tersebut menunjukkan bahwa target penyerapan gabah dan beras tahun 2026 telah terlampaui meskipun kegiatan pembelian masih berlangsung di sejumlah daerah.
Bulog Cabang Cirebon tetap melanjutkan penyerapan untuk memanfaatkan potensi produksi petani yang masih tersedia hingga penghujung tahun.
Penyerapan Gabah Turun dari 7.000 Ton Menjadi 300 Ton per Hari
Perum Bulog Cabang Cirebon mencatat rata-rata penyerapan gabah saat ini berada pada kisaran 300 ton per hari.
Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode panen raya pada April hingga Mei 2026, ketika pembelian gabah sempat mencapai 7.000 ton per hari.
Penurunan volume pembelian terjadi seiring berkurangnya ketersediaan hasil panen petani setelah berakhirnya periode panen raya.
“Sekarang penyerapan stabil di sekitar 300 ton sehari. Jumlah tersebut menurun dibandingkan periode panen raya pada April hingga Mei, ketika pembelian gabah sempat mencapai 7.000 ton per hari menyusul tingginya ketersediaan hasil panen di sejumlah daerah,” ujar Abdillah.
Perbedaan volume penyerapan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan pembelian gabah Bulog sangat bergantung pada jumlah produksi yang tersedia di tingkat petani.
Pada masa panen raya, tingginya produksi memungkinkan Bulog melakukan pembelian dalam jumlah besar setiap hari.
Sebaliknya, ketika produksi menurun, kegiatan penyerapan tetap dilakukan dengan menyesuaikan ketersediaan gabah di lapangan.
Meski volume pembelian harian lebih rendah, Bulog Cirebon memastikan kegiatan penyerapan tetap berjalan selama masih terdapat produksi petani yang memenuhi ketentuan pembelian melalui skema PSO.
Bulog Tetapkan Harga Gabah Rp6.500 per Kilogram, Lanjutkan Skema Maklun
Dalam pelaksanaan penyerapan hasil panen, Perum Bulog Cabang Cirebon membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram melalui skema Public Service Obligation (PSO).
Skema tersebut merupakan mekanisme penugasan pelayanan publik yang digunakan Bulog untuk melaksanakan pembelian gabah sesuai ketentuan pemerintah.
Melalui mekanisme ini, Bulog tetap menjalankan fungsi penyerapan hasil panen petani sekaligus mendukung pengelolaan cadangan pangan nasional.
Abdillah memastikan bahwa kegiatan penyerapan gabah pada November dan Desember 2026 masih akan dilaksanakan menggunakan mekanisme maklun.
“Untuk November dan Desember, Perum Bulog masih melayani penyerapan gabah dengan skema maklun,” kata Abdillah.
Mekanisme maklun merupakan sistem pengolahan gabah yang melibatkan mitra penggilingan untuk memproses gabah hasil pembelian Bulog menjadi beras.
Dalam pelaksanaannya, gabah yang telah dibeli dari petani diserahkan kepada mitra penggilingan untuk menjalani proses pengolahan.
Setelah proses penggilingan selesai, beras yang dihasilkan dikembalikan kepada Bulog untuk ditempatkan di fasilitas pergudangan.
Beras hasil pengolahan tersebut kemudian disimpan sebagai bagian dari Cadangan Pangan Pemerintah untuk mendukung pengelolaan persediaan pangan.
Melalui mekanisme ini, kegiatan pembelian gabah petani dapat terus berlangsung dengan memanfaatkan kemampuan pengolahan yang dimiliki mitra penggilingan.
Bulog Cirebon Kuasai Stok Beras Medium 183 Ribu Ton dan Premium 900 Ton
Selain melanjutkan penyerapan gabah, Perum Bulog Cabang Cirebon juga mengelola persediaan beras dalam jumlah besar untuk mendukung ketersediaan pasokan pangan.
Abdillah mengungkapkan bahwa stok beras medium yang saat ini dikuasai Bulog Cabang Cirebon mencapai sekitar 183.000 ton.
Persediaan tersebut disimpan melalui pemanfaatan gudang induk milik Bulog serta sejumlah fasilitas pergudangan tambahan di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Gudang induk Perum Bulog Cabang Cirebon memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 125.000 ton.
Untuk menampung persediaan yang melebihi kapasitas gudang induk, Bulog memanfaatkan fasilitas pergudangan sewaan melalui kerja sama jasa penyimpanan.
Saat ini, terdapat 26 unit jasa pergudangan yang digunakan untuk mendukung penyimpanan stok beras di wilayah operasional Bulog Cabang Cirebon.
Pemanfaatan gudang induk dan fasilitas tambahan tersebut memungkinkan Bulog mengelola persediaan beras medium yang mencapai sekitar 183.000 ton.
Selain beras medium, Bulog Cabang Cirebon juga menguasai stok beras premium untuk mendukung ketersediaan pasokan pangan.
“Adapun stok beras premium yang dikuasai Bulog Cabang Cirebon saat ini mencapai sekitar 900 ton untuk mendukung ketersediaan pasokan pangan di wilayah kerjanya,” ucap Abdillah.
Dengan persediaan beras medium sekitar 183.000 ton dan beras premium sekitar 900 ton, total stok kedua jenis beras yang dikuasai Bulog Cabang Cirebon mencapai sekitar 183.900 ton.
Pengelolaan stok tersebut dilakukan melalui dukungan fasilitas pergudangan yang tersedia untuk menjaga persediaan beras dalam rangka pelaksanaan tugas Bulog.
Kelanjutan penyerapan gabah hingga akhir 2026 diharapkan dapat menjaga pembelian hasil panen petani di Cirebon, Kuningan, dan Majalengka sekaligus mendukung penguatan cadangan beras pemerintah.
Dengan potensi produksi padi Oktober yang diperkirakan mencapai 108.000 ton, Bulog Cabang Cirebon masih memiliki peluang meningkatkan realisasi penyerapan untuk mendekati target prognosa 340.000 ton sepanjang 2026.
- Penulis :
- Shila Glorya




