HOME  ⁄  Ekonomi

Sumsel Datangkan 61,31 Ton Bawang Merah dan Cabai dari Luar Daerah untuk Antisipasi Dampak El Nino dan Kendalikan Inflasi

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Sumsel Datangkan 61,31 Ton Bawang Merah dan Cabai dari Luar Daerah untuk Antisipasi Dampak El Nino dan Kendalikan Inflasi
Foto: Salah seorang pedagang cabai Pasar Satelit Sako Rani di Palembang (sumber: ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri)

Pantau - Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memperkuat pasokan pangan dengan mendatangkan 61,31 ton bawang merah dan cabai dari sejumlah daerah penghasil di Indonesia guna mengantisipasi dampak fenomena El Nino berkepanjangan sekaligus menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi daerah.

Penguatan pasokan tersebut dilakukan melalui kerja sama perdagangan antardaerah, dengan rincian pembelian 23,02 ton bawang merah dari Sumatera Barat dan Jawa Tengah serta 38,29 ton cabai dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan Bambang Pramono mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan bahan pangan strategis di tengah kondisi iklim yang berpotensi mengganggu produksi pertanian.

"Sumsel mencatat pembelian komoditas bawang merah secara B2B dari Sumatera Barat dan Jawa Tengah sebanyak 23,02 ton," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Palembang, Selasa.

Kerja sama perdagangan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mengurangi risiko kenaikan harga pangan akibat terganggunya pasokan komoditas pertanian.

Sumsel Datangkan 23,02 Ton Bawang Merah dan 38,29 Ton Cabai

Bambang menjelaskan bahwa penguatan pasokan pangan di Sumatera Selatan dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah daerah yang memiliki produksi komoditas pertanian.

Salah satu langkah yang telah dilaksanakan adalah pembelian bawang merah dari Provinsi Sumatera Barat dan Jawa Tengah dengan total volume mencapai 23,02 ton.

Pengadaan komoditas tersebut dilakukan melalui skema kerja sama antarpelaku usaha atau business to business (B2B), yang memungkinkan transaksi perdagangan berlangsung secara langsung antara pelaku usaha dari berbagai daerah.

Melalui mekanisme tersebut, Sumatera Selatan berupaya memperkuat jaringan pasokan bawang merah untuk memenuhi kebutuhan pasar di tengah tantangan perubahan kondisi iklim.

Selain bawang merah, Sumatera Selatan juga mendatangkan cabai dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan volume pembelian mencapai 38,29 ton.

Pembelian cabai tersebut dilakukan untuk memperkuat ketersediaan komoditas yang menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat sekaligus memiliki pengaruh terhadap pergerakan harga pangan.

Dengan demikian, total pembelian kedua komoditas melalui kerja sama perdagangan antardaerah mencapai 61,31 ton.

Penguatan pasokan bawang merah dan cabai menjadi salah satu langkah antisipasi terhadap potensi gangguan produksi dan distribusi pangan akibat fenomena El Nino yang berlangsung berkepanjangan.

Kerja Sama Antardaerah Diperkuat untuk Hadapi Dampak El Nino

Bambang menjelaskan bahwa fenomena El Nino menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan karena dapat memengaruhi kondisi pertanian di sejumlah wilayah.

Perubahan pola cuaca dan ketersediaan air berpotensi berdampak terhadap kegiatan budidaya tanaman pangan, termasuk komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai.

Karena itu, penguatan jaringan perdagangan dengan daerah penghasil menjadi salah satu strategi untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat Sumatera Selatan tetap terpenuhi.

Menurut Bambang, kerja sama antardaerah (KAD) yang dijalankan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tidak hanya bertujuan mendatangkan komoditas pangan dari luar wilayah.

Kerja sama tersebut juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga melalui penguatan ketersediaan bahan pangan strategis di pasar.

Pasokan yang terjaga diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan kenaikan harga ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi hasil pertanian.

Melalui kerja sama tersebut, TPID Sumatera Selatan berupaya memperkuat hubungan perdagangan dengan berbagai daerah penghasil pangan agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Sumsel Catat 29 Dokumen Kerja Sama dengan Daerah di Pulau Jawa

Selain melakukan pembelian komoditas pangan, Sumatera Selatan juga memperkuat koordinasi dengan sejumlah pemerintah daerah di Pulau Jawa melalui berbagai kesepakatan resmi.

Bambang menyampaikan bahwa hingga September 2026 telah terjalin delapan Kesepakatan Bersama (KSB) antara pemerintah daerah di Sumatera Selatan dan pemerintah daerah di Jawa.

Selain itu, terdapat 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang menjadi bagian dari penguatan hubungan antarpemerintah daerah.

Dengan demikian, jumlah dokumen kerja sama yang telah tercatat hingga September 2026 mencapai 29 dokumen, terdiri atas delapan KSB dan 21 PKS.

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu landasan dalam memperkuat koordinasi perdagangan, terutama untuk menjaga ketersediaan komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat.

Kerja sama antarpemerintah daerah juga diarahkan untuk mendukung berbagai langkah pengendalian inflasi melalui penguatan jaringan distribusi dan pasokan bahan pangan.

Dengan adanya kesepakatan tersebut, Sumatera Selatan diharapkan memiliki akses kerja sama yang lebih luas dengan daerah penghasil komoditas pertanian.

TPID Sumsel dan Sulsel Pelajari Inovasi Pengendalian Inflasi di Jawa Tengah

Selain memperkuat perdagangan pangan, TPID Sumatera Selatan juga melakukan kegiatan pembelajaran dan pertukaran pengalaman dengan daerah lain untuk meningkatkan efektivitas pengendalian inflasi.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah studi tiru bersama TPID Sulawesi Selatan ke Provinsi Jawa Tengah.

Kegiatan tersebut bertujuan mempelajari berbagai inovasi, kebijakan, dan pendekatan pengendalian inflasi yang telah diterapkan di Jawa Tengah.

Melalui studi tiru, TPID Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan diharapkan memperoleh referensi mengenai program yang dapat disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah.

Pertukaran pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas koordinasi antardaerah dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.

Hasil pembelajaran diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan strategi pengendalian inflasi yang mempertimbangkan karakteristik wilayah, kondisi produksi pertanian, dan kebutuhan masyarakat.

Penguatan Pasokan Pangan Diharapkan Jaga Stabilitas Harga di Sumsel

Penguatan pasokan bawang merah dan cabai menjadi bagian dari strategi Sumatera Selatan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi ketersediaan komoditas pertanian.

Melalui pembelian pangan dari luar daerah, pemerintah daerah bersama TPID berupaya menjaga kesinambungan pasokan bahan pangan strategis di pasar.

Langkah tersebut didukung penguatan kerja sama antarpemerintah daerah melalui delapan Kesepakatan Bersama dan 21 Perjanjian Kerja Sama yang telah tercatat hingga September 2026.

Selain itu, kegiatan studi tiru bersama TPID Sulawesi Selatan menjadi salah satu upaya meningkatkan kapasitas daerah dalam merancang kebijakan pengendalian inflasi.

Dengan total pembelian 61,31 ton bawang merah dan cabai, Sumatera Selatan berharap kebutuhan pangan masyarakat dapat tetap terpenuhi di tengah potensi gangguan produksi akibat El Nino.

Penguatan jaringan perdagangan, koordinasi antardaerah, dan pembelajaran kebijakan pengendalian inflasi tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan pasokan pangan sekaligus mendukung stabilitas harga di Sumatera Selatan.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026