HOME  ⁄  Ekonomi

Menko AHY Dorong Indonesia Jadi Kekuatan Menengah Berpengaruh di Dunia, Tekankan Diplomasi dan Penguatan Nasional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menko AHY Dorong Indonesia Jadi Kekuatan Menengah Berpengaruh di Dunia, Tekankan Diplomasi dan Penguatan Nasional
Foto: (Sumber :Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia (RI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Selasa (13/10) menyampaikan bahwa Indonesia harus menjadi kekuatan menengah yang berpengaruh (influential middle power) dalam percaturan geopolitik internasional mengingat suara negara ini semakin didengar, dirasakan, dan semakin ditunggu kehadirannya.(Antara/Xinhua).)

Pantau - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan Indonesia harus menjadi kekuatan menengah yang berpengaruh atau influential middle power dalam geopolitik internasional dengan memperkuat diplomasi, menjaga kedaulatan, dan menyelesaikan berbagai persoalan dalam negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan AHY saat membuka Konvensi Nasional (Vennas) XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) 2026 di President University, Kota Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026).

Menurut AHY, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengaruh internasional karena didukung sumber daya alam, jumlah penduduk, posisi geografis strategis, dan kemampuan diplomasi.

Ia menilai suara Indonesia semakin didengar dalam berbagai forum internasional sehingga peran negara perlu diperkuat di tengah perubahan tatanan geopolitik dunia.

Namun, AHY mengingatkan bahwa pengaruh internasional harus dibangun melalui fondasi nasional yang kuat agar kebijakan luar negeri memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

AHY Soroti Fragmentasi Global di Tengah Kemajuan Teknologi

Dalam pemaparannya, AHY menyebut dunia saat ini menghadapi kondisi paradoks karena kemajuan teknologi dan meningkatnya keterhubungan antarnegara justru diikuti fragmentasi global.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah mempercepat interaksi internasional, tetapi berbagai negara masih menghadapi perbedaan kepentingan yang semakin tajam.

"Kalau kita mengikuti pemberitaan sehari-hari dan kita juga merasakan langsung di kehidupan kita, ini terasa betul bahwa dunia semakin borderless, semakin terhubung satu sama lain, tapi ironisnya di sana-sini kita merasakan terjadinya fragmentasi," tutur AHY.

Ia juga menyoroti melemahnya kepercayaan terhadap institusi internasional ketika kerja sama antarnegara semakin dibutuhkan.

Kondisi tersebut dinilai semakin menyulitkan tercapainya kesepakatan global dalam menghadapi berbagai tantangan bersama.

AHY menjelaskan bahwa situasi tersebut mendorong semakin banyak negara mengutamakan kepentingan nasional dalam menentukan kebijakan.

"Memang inilah sejatinya negara itu dibangun, pertama dan utama adalah untuk negaranya, untuk rakyatnya dulu. Tapi dalam takaran yang ekstrem, maka ini akan menghadirkan tantangan bahkan permasalahan baru di dunia saat ini. Karena yang harusnya kita bersatu mencari solusi, akhirnya kita seperti sektoral, masing-masing, sendiri-sendiri," tuturnya.

Indonesia Diminta Perkuat Posisi dalam Persaingan Geopolitik

AHY mengingatkan bahwa meningkatnya persaingan antarnegara membuat setiap bangsa perlu memperkuat ketahanan dan kemampuan nasional.

Dalam penjelasannya, ia mengutip pandangan filsuf Yunani kuno Thucydides mengenai hubungan kekuatan dalam politik internasional.

Prinsip tersebut menggambarkan kondisi ketika negara yang memiliki kekuatan lebih besar cenderung memiliki ruang gerak lebih luas dibandingkan negara yang lemah.

"Artinya ketika national interest first dan dikaitkan dengan semangat ini, maka tidak ada pilihan atau sedikit pilihan bagi negara-negara selain memperkuat dirinya sendiri. Karena tidak mau menjadi korban, menjadi the weak yang suffering di dunia yang penuh ketidakpastian," imbuhnya.

Menurut AHY, Indonesia perlu memanfaatkan berbagai keunggulan nasional agar tidak hanya menjadi pihak yang terdampak perubahan geopolitik global.

Ia menilai kekuatan sumber daya alam, jumlah penduduk, posisi strategis, dan pengalaman diplomasi menjadi modal penting untuk meningkatkan peran Indonesia.

AHY Tegaskan Diplomasi Bebas Aktif Harus Berikan Manfaat Nyata

AHY menekankan bahwa politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi landasan penting bagi Indonesia dalam membangun hubungan internasional.

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan Indonesia terlibat dalam berbagai forum multilateral tanpa mengabaikan kepentingan nasional.

"Foreign policy kita bebas aktif, tentu kita sudah sangat menyadari betapa pentingnya bebas aktif ini, ditunjukkan dengan hadirnya pemimpin kita dan para diplomat kita di berbagai forum multinasional, multilateral. Di PBB, di BRICS, di G20, OKI, ASEAN, termasuk World Economic Forum," ujarnya.

AHY menyampaikan empat prinsip yang perlu menjadi dasar penguatan peran Indonesia di dunia internasional.

Keempat prinsip tersebut meliputi:

  • Mengutamakan kedaulatan negara dalam setiap kebijakan.
  • Memperluas kemitraan dan kerja sama internasional.
  • Memperkuat pengaruh Indonesia dalam percaturan global.
  • Memastikan diplomasi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Menurut AHY, penerapan prinsip-prinsip tersebut diperlukan agar Indonesia dapat menjalankan peran sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan diplomasi tidak cukup hanya diukur melalui kehadiran Indonesia dalam berbagai forum internasional.

AHY Ingatkan Persoalan Dalam Negeri Harus Diselesaikan

Selain memperkuat diplomasi, AHY mengingatkan bahwa Indonesia perlu menyelesaikan berbagai persoalan domestik sebelum memperluas pengaruh internasional.

Ia merujuk pada prinsip foreign policy begins at home, everything begins at home yang menekankan hubungan antara kekuatan nasional dan efektivitas kebijakan luar negeri.

Menurutnya, kemampuan Indonesia menjalankan diplomasi akan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan keberhasilan pembangunan di dalam negeri.

"Jadi sebelum kita memproyeksikan diri kita ke luar, sebelum kita ingin menghadirkan policy atau foreign policy dan diplomasi yang efektif, terlebih dahulu selesaikan masalah rumah tangga kita. Our domestic issues, kita harus selesaikan dulu dengan kebijakan dengan segala upaya terbaik kita," tuturnya.

AHY menilai penguatan nasional menjadi fondasi agar Indonesia mampu menghadapi persaingan geopolitik sekaligus meningkatkan kontribusi dalam penyelesaian persoalan internasional.

Konvensi Nasional AIHII 2026 Libatkan Akademisi dan Mahasiswa

Konvensi Nasional XVII AIHII 2026 berlangsung pada 12–15 Oktober di President University, Kota Jababeka, Cikarang, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut mengusung tema "Melampaui Fragmentasi: Konstelasi Kuasa, Inovasi, dan Tata Kelola Global Masa Depan".

Sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan media menghadiri kegiatan yang juga melibatkan Universitas Bahasa dan Budaya Beijing atau Beijing Language and Culture University (BLCU) sebagai penyelenggara.

Rangkaian kegiatan mencakup forum akademik, pidato pembicara utama, dan pertemuan organisasi.

Ketua Umum AIHII Agus Haryanto mengatakan jumlah program studi hubungan internasional di Indonesia saat ini mencapai 77.

Jumlah mahasiswa aktif pada program studi tersebut diperkirakan berkisar antara 37.000 hingga 40.000 orang.

Agus juga menyebut AIHII menaungi 729 dosen hubungan internasional dengan berbagai bidang keahlian, mulai dari pertahanan, keamanan, politik, hingga isu iklim.

Keahlian para dosen tersebut dapat ditelusuri melalui kode batang pada kartu tanda anggota untuk memudahkan pencarian berdasarkan bidang kompetensi.

Melalui forum tersebut, AHY menekankan pentingnya penguatan kapasitas nasional dan diplomasi agar Indonesia mampu menjalankan peran lebih besar dalam menghadapi dinamika geopolitik internasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026