
Pantau - Dinas Pangan dan Pertanian (Dinpanpertan) Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mengembangkan budidaya Ayam Merawang untuk menjaga kelestarian unggas lokal yang populasinya mulai berkurang akibat persaingan dengan jenis ayam dari luar Pulau Bangka.
Program tersebut dilakukan dengan membudidayakan sembilan ekor Ayam Merawang sebagai indukan awal untuk meningkatkan populasi dan mendorong masyarakat mengembangkan usaha peternakan serupa.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinpanpertan Bangka Krisnaningsih mengatakan Ayam Merawang memiliki potensi ekonomi karena termasuk jenis ayam dwiguna yang dapat menghasilkan telur sekaligus daging.
"Saat ini ada sembilan ekor Ayam Merawang yang kami coba kembangkan, yakni dua ekor jantan dan tujuh ekor betina," kata Krisnaningsih di Sungailiat, Jumat (16/10/2026).
Dinpanpertan Bangka Siapkan Sembilan Indukan Ayam Merawang
Krisnaningsih menjelaskan bahwa pengembangan Ayam Merawang dilakukan sebagai langkah awal mempertahankan keberadaan unggas lokal khas Bangka.
Sebanyak sembilan ekor ayam yang dibudidayakan terdiri atas dua pejantan dan tujuh betina.
Jumlah indukan tersebut diharapkan dapat berkembang melalui proses perkembangbiakan sehingga menghasilkan populasi yang lebih banyak.
Dinpanpertan Bangka juga berharap keberhasilan program tersebut dapat memotivasi masyarakat untuk membudidayakan Ayam Merawang secara mandiri.
Pengembangan peternakan ayam lokal dinilai memiliki peluang karena Ayam Merawang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan daging.
Ayam Merawang Mampu Hasilkan 25 Butir Telur per Bulan
Ayam Merawang memiliki kemampuan menghasilkan sekitar 20 hingga 25 butir telur setiap bulan.
Masa produksi telurnya dapat berlangsung hampir tiga tahun sehingga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai usaha peternakan masyarakat.
Namun, Krisnaningsih mengungkapkan populasi Ayam Merawang di masyarakat mulai menurun karena harus bersaing dengan jenis ayam yang didatangkan dari luar Bangka.
"Ayam Merawang dengan kemampuan produksi telur 20 - 25 butir per bulan dengan masa produksi hampir selama tiga tahun, populasi di masyarakat mulai berkurang karena bersaing dengan jenis ayam lain yang didatangkan dari luar pulau Bangka," jelas dia.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah mendorong pengembangan kembali budidaya Ayam Merawang.
Melalui penambahan populasi, unggas lokal tersebut diharapkan tetap dapat dipelihara dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Perawatan Ayam Merawang Memerlukan Vaksinasi Rutin
Menurut Krisnaningsih, pemeliharaan Ayam Merawang tidak jauh berbeda dengan perawatan ayam lokal lainnya.
Namun, peternak perlu memperhatikan pemberian vaksin secara rutin untuk membantu menjaga ketahanan tubuh ayam.
Berdasarkan informasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Bangka Belitung, Kementerian Pertanian, bobot Ayam Merawang relatif tidak jauh berbeda dari ayam lokal pada umumnya.
Ayam Merawang betina memiliki bobot berkisar 1,32 hingga 2,5 kilogram per ekor.
Sementara itu, ayam jantan memiliki bobot sekitar 1,9 hingga 3,1 kilogram per ekor.
Karakteristik tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan Ayam Merawang sebagai unggas penghasil daging dan telur.
Ayam Merawang Memiliki Sejarah Panjang di Bangka
Ayam Merawang merupakan ayam lokal yang termasuk spesies Gallus gallus dari famili Phasianidae.
Berdasarkan riwayatnya, ayam tersebut pertama kali dibawa oleh penambang timah dari daratan China ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda atau sekitar 300 tahun lalu.
Dalam perkembangannya, ayam tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan Desa Merawang, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.
Proses adaptasi tersebut membuat ayam yang berasal dari luar wilayah itu kemudian dikenal sebagai Ayam Merawang dan menjadi salah satu jenis unggas lokal Bangka.
Dinpanpertan Bangka berharap pengembangan budidaya dengan indukan yang tersedia dapat membantu mempertahankan populasi Ayam Merawang sekaligus membuka peluang usaha peternakan bagi masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan




