
Pantau - Praktisi pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Kus Endarto menilai Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata berbasis Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) dan pembangunan arena multifungsi bertaraf internasional.
Kus Endarto mengatakan keberadaan YIA harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, lama tinggal, belanja pengunjung, serta investasi di Kulon Progo.
Menurutnya, pengembangan kawasan Temon perlu diarahkan agar penumpang pesawat tidak hanya melintas, tetapi juga menginap dan melakukan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
"Keberadaan bandara dinilai harus mampu mengubah penumpang yang datang menjadi wisatawan yang singgah, menginap, serta berbelanja," kata Kus Endarto di Kulon Progo, Minggu (25/10/2026).
Salah satu gagasan yang didorong adalah pembangunan arena tertutup multifungsi berkapasitas sekitar 8.000 penonton di kawasan Kebonrejo, Temon.
Temon Jadi Prioritas Pengembangan Pariwisata Kulon Progo
Kus Endarto menjelaskan bahwa Kapanewon Temon memiliki posisi strategis karena berdekatan langsung dengan Bandara YIA.
Kawasan tersebut juga didukung akses transportasi yang memadai serta kedekatan dengan sejumlah destinasi wisata pantai.
Berdasarkan arah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kulon Progo 2025–2045, pengembangan pariwisata diprioritaskan pada koridor Temon, Kokap, Girimulyo, dan Samigaluh.
Pengembangan kawasan tersebut turut diperkuat oleh wilayah Nanggulan dan Kalibawang.
"Dari kawasan tersebut, Kapanewon Temon ditempatkan sebagai fokus prioritas utama dalam lima tahun mendatang," katanya.
Menurut Kus Endarto, pengembangan Temon perlu difokuskan pada kegiatan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran atau Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Sektor tersebut dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas wisata dan bisnis di sekitar bandara.
Okupansi Tiga Hotel Besar di Temon Masih Rendah
Meski memiliki bandara internasional, kawasan Temon dinilai masih menghadapi tantangan dalam menarik wisatawan untuk menginap.
Kus Endarto menyebut tiga hotel besar telah beroperasi di kawasan tersebut, yakni Hotel Morazen, Hotel Novotel, dan Hotel Ibis.
Namun, tingkat keterisian kamar atau okupansi ketiga hotel tersebut dinilai masih sangat rendah.
Kondisi itu menunjukkan perlunya daya tarik tambahan yang dapat mendorong wisatawan untuk sengaja berkunjung ke Kulon Progo.
Menurut Kus Endarto, keberadaan bandara saja belum cukup apabila tidak didukung kegiatan dan destinasi yang mampu meningkatkan lama tinggal pengunjung.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan fasilitas yang dapat menarik penyelenggaraan acara berskala besar.
Dengan demikian, aktivitas wisata di Kulon Progo diharapkan tidak hanya bergantung pada pergerakan penumpang yang datang dan berangkat melalui YIA.
Arena Internasional Berkapasitas 8.000 Penonton Diusulkan Dekat YIA
Untuk meningkatkan daya tarik kawasan, Kus Endarto mengusulkan pembangunan kompleks arena tertutup multifungsi bertaraf internasional di sekitar Bandara YIA.
"Salah satu usulan strategis yang didorong adalah pembangunan kompleks arena indoor multifungsi bertaraf internasional di dekat kawasan YIA," katanya.
Arena tersebut diharapkan memiliki fungsi serupa dengan Indonesia Arena yang berada di kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta.
Fasilitas itu dirancang sebagai pusat penyelenggaraan kegiatan MICE, pertunjukan, dan acara berskala nasional maupun internasional.
Berdasarkan konsep Arena YIA, lokasi pembangunan diusulkan berada di Kebonrejo, Kapanewon Temon, dengan kebutuhan lahan sekitar 10 hektare.
Kapasitas arena dirancang mencapai sekitar 8.000 penonton.
Bangunan arena utama direncanakan memiliki ukuran sekitar 120 x 100 meter.
Kus Endarto menilai keberadaan fasilitas tersebut dapat menjadi alasan bagi wisatawan dan penyelenggara kegiatan untuk memilih Kulon Progo sebagai tujuan kunjungan.
"Kehadiran arena ini beserta kalender acara yang berkelanjutan dinilai akan menjadi alasan utama perjalanan wisatawan," katanya.
Arena YIA Dirancang Dilengkapi Plaza UMKM dan Fasilitas Modern
Konsep pengembangan Arena YIA tidak hanya mencakup bangunan utama untuk penyelenggaraan acara.
Kawasan tersebut juga direncanakan memiliki plaza usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat setempat.
Fasilitas pendukung lainnya meliputi gedung parkir empat lantai, ruang terbuka hijau, serta kolam retensi.
Dalam rancangan kawasan, turut diusulkan pembangunan plaza dengan air mancur, jalur joging, dan masjid dua lantai.
Fasilitas operasional juga direncanakan mencakup area bongkar muat, parkir bawah tanah untuk tamu VIP dan VVIP, serta usulan landasan helikopter di bagian atap.
Seluruh fasilitas tersebut masih merupakan bagian dari rancangan konsep pengembangan kawasan Arena YIA.
Belum ada informasi mengenai nilai investasi, jadwal pembangunan, maupun kepastian realisasi proyek tersebut.
Pengembangan Wisata Diharapkan Tingkatkan PAD dan Lapangan Kerja
Kus Endarto mengatakan pengembangan pariwisata Kulon Progo perlu diukur melalui sejumlah indikator ekonomi yang jelas.
Indikator tersebut meliputi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata, jumlah kunjungan, lama tinggal wisatawan, dan pengeluaran pengunjung.
Selain itu, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan investasi juga menjadi ukuran keberhasilan pengembangan sektor pariwisata.
Kulon Progo dinilai memiliki modal wisata yang beragam, mulai dari lanskap Perbukitan Menoreh hingga kawasan pesisir pantai.
Potensi pertanian, pangan lokal, dan karakter perdesaan Menoreh juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Kus Endarto berharap penguatan fasilitas pariwisata dan kegiatan berskala besar di Temon dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
"Langkah ini diharapkan dapat merealisasikan konsep YIA sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Kulon Progo secara berkelanjutan," katanya.
- Penulis :
- Gerry Eka




