
Pantau - Bank Indonesia (BI) menargetkan nilai transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) mencapai 55 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2026, meningkat sekitar 120 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 25 miliar dolar AS.
Target tersebut menjadi bagian dari strategi BI memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi internasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa peningkatan transaksi LCT didukung oleh semakin luasnya kerja sama Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang utama.
Pernyataan tersebut disampaikan Destry dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.
Menurut Destry, Indonesia saat ini telah menjalin atau hampir merampungkan kerja sama penggunaan mata uang lokal dengan sekitar enam hingga tujuh negara untuk mendukung transaksi ekonomi bilateral.
"Sekarang kita sudah hampir bekerja sama dengan 6-7 negara di mana transaksi kita dengan mitra utama kita itu kita gunakan mata uang lokal masing-masing. Dan saat ini transaksinya, perkiraan tahun ini 55 miliar dolar AS, padahal tahun lalu itu baru sekitar 25 miliar dolar AS," kata Destry.
Transaksi LCT Diproyeksikan Melonjak 120 Persen pada 2026
Bank Indonesia memperkirakan nilai transaksi LCT sepanjang 2026 meningkat sekitar 30 miliar dolar AS dibandingkan capaian pada 2025.
Dengan nilai transaksi tahun sebelumnya sekitar 25 miliar dolar AS, target sebesar 55 miliar dolar AS mencerminkan potensi pertumbuhan sekitar 120 persen secara tahunan.
Peningkatan tersebut didukung oleh perluasan kerja sama penggunaan mata uang lokal antara Indonesia dan negara-negara mitra perdagangan internasional.
Melalui mekanisme LCT, transaksi perdagangan dan investasi antarnegara dapat diselesaikan menggunakan mata uang lokal masing-masing tanpa harus selalu menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara.
Destry menyebut China sebagai salah satu kontributor utama dalam mendukung peningkatan nilai transaksi LCT Indonesia pada 2026.
Kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama dengan negara mitra dagang utama dalam memperluas penggunaan mata uang lokal pada aktivitas ekonomi lintas negara.
Bank Indonesia memandang diversifikasi mata uang sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional.
Penggunaan mata uang lokal diharapkan dapat memperluas pilihan penyelesaian transaksi ekspor, impor, dan investasi sekaligus membantu mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Singapura dan India Berminat Perluas Kerja Sama LCT
Selain memperkuat kerja sama yang telah berjalan, Bank Indonesia terus membuka peluang pengembangan transaksi mata uang lokal dengan sejumlah negara lainnya.
Singapura menjadi salah satu negara yang menunjukkan minat untuk bergabung dalam skema LCT guna memperkuat hubungan transaksi ekonomi bilateral.
Sementara itu, India menunjukkan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia dalam dua bidang sekaligus, yakni penggunaan mata uang lokal melalui LCT dan pengembangan QRIS lintas negara.
Destry menjelaskan bahwa Bank Indonesia terus mengutamakan pendekatan bilateral dalam memperluas kerja sama sistem pembayaran internasional.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dalam memperkuat hubungan ekonomi dan sistem pembayaran antarnegara di tengah dinamika perekonomian global.
"Jadi bilateral approach terus kita lakukan. Karena dalam kondisi kayak gini memang yang menjadi lebih efektif adalah pendekatannya sifatnya bilateral," ujarnya.
Melalui perluasan kerja sama tersebut, BI berupaya memperkuat ketahanan sistem pembayaran sekaligus mendukung stabilitas ekonomi nasional.
QRIS Lintas Negara Sudah Diterapkan di Tujuh Negara
Selain mengembangkan transaksi LCT, Bank Indonesia terus memperluas konektivitas pembayaran internasional melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Destry menyampaikan bahwa layanan QRIS lintas negara atau Cross-Border QRIS saat ini telah diterapkan di tujuh negara.
Penerapan tersebut memungkinkan transaksi pembayaran antarnegara dilakukan melalui sistem pembayaran berbasis kode QR yang saling terhubung.
Pengembangan QRIS lintas negara menjadi bagian dari strategi BI untuk meningkatkan efisiensi dan kemudahan transaksi pembayaran internasional.
Bank Indonesia juga membuka peluang memperluas kerja sama QRIS dengan negara mitra lainnya melalui pendekatan bilateral.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas sistem pembayaran digital sekaligus mendukung aktivitas ekonomi lintas negara.
Pengguna QRIS Tembus 70,6 Juta, Mayoritas Pedagang Berasal dari UMKM
Di tengah perluasan kerja sama internasional, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan penggunaan QRIS di dalam negeri sepanjang 2026.
Berdasarkan data BI hingga kuartal III 2026, jumlah pengguna QRIS mencapai 70,6 juta pengguna.
Pada periode yang sama, jumlah pedagang atau merchant yang menerima pembayaran melalui QRIS tercatat sebanyak 49,4 juta.
Dari keseluruhan pedagang tersebut, sekitar 97 persen merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Jika dihitung berdasarkan proporsi tersebut, sekitar 47,9 juta pedagang QRIS berasal dari kelompok UMKM, sedangkan sisanya merupakan pelaku usaha lainnya.
Besarnya jumlah pelaku UMKM yang menggunakan QRIS menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan pembayaran digital dalam kegiatan usaha masyarakat.
Dari sisi aktivitas pembayaran, Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS pada kuartal III 2026 tumbuh sebesar 75,8 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Pertumbuhan tersebut mencerminkan peningkatan penggunaan QRIS dalam aktivitas pembayaran dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Perkembangan jumlah pengguna, pedagang, dan volume transaksi QRIS menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia memperkuat ekosistem pembayaran digital nasional.
Melalui perluasan transaksi LCT dan pengembangan QRIS lintas negara, Bank Indonesia berharap ketergantungan terhadap dolar AS dapat berkurang, stabilitas nilai tukar rupiah semakin terjaga, serta kerja sama ekonomi bilateral dan sistem pembayaran digital terus berkembang.
- Penulis :
- Leon Weldrick




