
Pantau - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan ekowisata di Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), guna menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Dorongan tersebut disampaikan Kepala Sekretariat Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Bappenas, Pungkas Bahjuri, saat melakukan kunjungan kerja ke Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Rabu (28/10/2026).
Pungkas mengatakan pengembangan ekowisata harus mampu mengintegrasikan upaya perlindungan ekosistem dengan aktivitas pariwisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Menurutnya, Gunung Rinjani memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan dan pelestarian ekosistem daratan.
“Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan laboratorium nyata bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 15 mengenai Ekosistem Daratan,” ujar Pungkas.
Kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana pengelolaan kawasan konservasi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan ekowisata.
Gunung Rinjani Dikunjungi Lebih dari 80 Ribu Pendaki Sepanjang 2025
Berdasarkan data Balai TNGR dalam Angka 2025, jumlah kunjungan pendaki ke kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani mencapai 80.214 orang sepanjang 2025.
Dari total kunjungan tersebut, sebanyak 54 persen atau sekitar 43.236 pendaki merupakan wisatawan mancanegara.
Tingginya jumlah kunjungan wisatawan asing tersebut menunjukkan besarnya daya tarik Gunung Rinjani sebagai salah satu destinasi wisata alam internasional.
Pungkas menilai peningkatan aktivitas wisata memberikan peluang bagi pengembangan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan taman nasional.
Namun, tingginya kunjungan wisatawan juga menghadirkan tantangan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem kawasan konservasi.
Menurutnya, aktivitas wisata yang tidak diimbangi dengan tata kelola ketat berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan hingga mengancam keberlanjutan daya tarik wisata itu sendiri.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya tarik wisata dapat mengancam kelestariannya sendiri apabila tidak diimbangi dengan tata kelola yang ketat. Di sisi lain, ekowisata yang melibatkan masyarakat lokal seperti pemberdayaan masyarakat sebagai sumber penghidupan sekaligus sistem pengawasan kawasan,” ujarnya.
Pungkas menekankan bahwa keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam pengembangan ekowisata karena dapat membuka peluang penghidupan sekaligus memperkuat pengawasan terhadap kelestarian kawasan taman nasional.
Sampah Pendakian Gunung Rinjani Capai 30.359 Kilogram Setahun
Selain tingginya jumlah kunjungan wisatawan, pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Gunung Rinjani.
Berdasarkan data yang disampaikan Pungkas, timbulan sampah dari aktivitas pendakian di kawasan tersebut mencapai 30.359,52 kilogram atau sekitar 30,36 ton dalam satu tahun.
Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pendaki sepanjang 2025, rata-rata timbulan sampah mencapai sekitar 0,38 kilogram per pendaki.
Besarnya volume sampah tersebut menunjukkan pentingnya penerapan sistem pengelolaan limbah yang efektif agar aktivitas pendakian tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap lingkungan kawasan konservasi.
Pungkas menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan Gunung Rinjani berkaitan dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan, termasuk pelestarian ekosistem daratan dan pegunungan, pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta pengurangan sampah.
“Praktik di Rinjani ini dinilai berkaitan erat dengan t arget ekosistem daratan dan pegunungan, serta tentang pariwisata berkelanjutan dan mengenai pengurangan sampah,” kata Pungkas.
Melalui penguatan tata kelola kawasan, aktivitas pendakian diharapkan tetap dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Balai TNGR Perkuat Pengelolaan Sampah dan Libatkan Masyarakat Lokal
Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Budhy Kurniawan menyampaikan dukungannya terhadap program konservasi dan pengembangan ekowisata yang didorong Kementerian PPN/Bappenas.
Budhy menjelaskan bahwa pengelola kawasan telah menerapkan sejumlah langkah untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk melalui kegiatan pemilahan dan pengelolaan sampah.
Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat perlindungan ekosistem sekaligus memastikan aktivitas wisata tetap memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat.
“Tentunya kami di Rinjani sudah menerapkan sejumlah hal yang sangat peduli terhadap ekosistem lingkungan misalnya dalam melakukan pemilahan dan manajemen sampah, ini juga selaras dengan penguatan ekosistem dan memberikan kontribusi secara ekonomi,” kata Budhy.
Selain pengelolaan sampah, Balai TNGR juga telah melakukan koordinasi dengan kelompok tokoh masyarakat untuk mendukung pengembangan Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata berkelanjutan.
Budhy menilai kawasan Gunung Rinjani tidak hanya memiliki nilai penting dari sisi ekologi, tetapi juga menyimpan nilai kosmologis, budaya, dan sejarah yang perlu diperhatikan dalam pengelolaannya.
Gunung Rinjani Siapkan Pengembangan Pariwisata Cerdas Lima Tahun ke Depan
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani juga telah menyusun visi pengelolaan kawasan untuk lima tahun ke depan yang mencakup pengelolaan hutan hingga pengembangan ekosistem pariwisata cerdas atau smart tourism ecosystem.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung tata kelola kawasan konservasi yang lebih baik dengan tetap memperhatikan nilai lingkungan, budaya, dan potensi ekonomi masyarakat.
“Rinjani memiliki kosmologis dan bisa menjadi nilai kultural sejarah, dan menjadi nilai ekologi. Kami sudah memiliki visi 5 tahun ke depan dari pengelolaan hutan, hingga smart tourism ecosystem,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat lokal, pengembangan ekowisata Gunung Rinjani diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan lingkungan, keberlanjutan pariwisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis :
- Shila Glorya




