HOME  ⁄  Ekonomi

Kadin Dorong Industri Indonesia Perbesar Peran di Rantai Pasok Global dan Kembangkan Merek Sendiri

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kadin Dorong Industri Indonesia Perbesar Peran di Rantai Pasok Global dan Kembangkan Merek Sendiri
Foto: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie memberikan keterangan kepada wartawan seusai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu 28/10/2026 (sumber: ANTARA/Aria Ananda)

Pantau - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan peningkatan kapasitas produksi industri nasional dalam rantai pasok berbagai merek global sekaligus mendorong pengembangan merek Indonesia agar mampu bersaing di pasar internasional.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan Indonesia saat ini telah menjadi bagian dari rantai pasok global, tetapi kontribusi dan kapasitas produksi industri dalam negeri masih perlu diperbesar.

"Indonesia sudah jadi bagian daripada supply chain global, dan besok kami akan sampaikan bahwa kita juga ingin memperbesar persentase kapasitas di dalam setiap global brand dan mempunyai brand sendiri," kata Anindya seusai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Anindya menjelaskan bahwa rencana peningkatan kontribusi produksi Indonesia bagi berbagai merek internasional akan menjadi salah satu agenda pembahasan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin pada 29–30 Oktober 2026.

Melalui Rapimnas tersebut, Kadin akan membahas arah pengembangan industri nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok dalam rantai produksi internasional, tetapi juga mampu membangun dan mengembangkan merek sendiri.

Meski demikian, Anindya belum merinci besaran persentase tambahan kapasitas produksi yang ditargetkan maupun batas waktu pencapaiannya.

Kadin Tekankan Penguasaan Teknologi dan Penguatan Industri Manufaktur

Anindya menilai Indonesia perlu memperkuat kemampuan pengolahan sumber daya serta meningkatkan penguasaan teknologi agar industri dalam negeri mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Menurutnya, peningkatan kemampuan tersebut penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus mengurangi ketergantungan pada kegiatan produksi bernilai tambah rendah.

"Karena tanpa melakukan suatu pengolahan atau loncatan-loncatan yang tinggi, tentu Indonesia akan hanya menjadi pasar," ujar dia.

Dalam diskusi panel DTIIF 2026, Anindya mencontohkan pengalaman industrialisasi Jepang, Korea Selatan, dan China yang berhasil mengembangkan sumber daya menjadi berbagai produk akhir melalui penguatan sektor manufaktur dan teknologi.

Pengalaman negara-negara tersebut dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam membangun industri yang memiliki kemampuan pengolahan, inovasi, dan penguasaan teknologi lebih tinggi.

Anindya juga menekankan pentingnya ketersediaan tenaga kerja terampil yang mampu memenuhi kebutuhan perkembangan sektor manufaktur dan teknologi.

Selain tenaga kerja berkualitas, transformasi industri nasional membutuhkan akses pembiayaan jangka panjang untuk mendukung investasi, peningkatan kapasitas produksi, serta pengembangan teknologi.

Kemitraan teknologi dengan perusahaan internasional turut dipandang sebagai faktor penting dalam meningkatkan kemampuan industri nasional dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

Kadin Siapkan Gerakan Buy from Indonesia untuk Perluas Pasar Global

Upaya memperbesar peran produsen nasional dalam perdagangan internasional sejalan dengan gerakan Buy from Indonesia yang tengah disiapkan Kadin.

Gerakan tersebut bertujuan mendorong peningkatan pembelian barang dan jasa Indonesia oleh konsumen maupun perusahaan luar negeri.

Melalui program tersebut, Kadin berupaya memperkenalkan kemampuan industri nasional kepada pasar internasional sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis yang lebih luas.

Sebelumnya, pada 22 Oktober 2026, Kadin menyampaikan bahwa buku We Buy From Indonesia: Behind the World's Greatest Products mendokumentasikan keterlibatan produsen Indonesia dalam rantai pasok sekitar 80 merek global.

Sejumlah merek internasional yang disebut dalam dokumentasi tersebut antara lain Tesla, IKEA, dan Uniqlo.

Buku tersebut menggambarkan bahwa kontribusi produsen Indonesia dalam rantai pasok internasional mencakup penyediaan bahan baku, pembuatan komponen, hingga produksi barang jadi.

Keterlibatan industri nasional tersebar di berbagai sektor, antara lain alas kaki, makanan dan minuman, kosmetik, elektronik, serta kendaraan listrik.

Kadin ingin memanfaatkan hubungan bisnis yang telah terbangun dengan perusahaan internasional untuk memperbesar volume pesanan produk Indonesia sekaligus meningkatkan kapasitas produksi industri dalam negeri.

Selain memperluas pesanan dari perusahaan global, Kadin juga berupaya membuka kesempatan bagi lebih banyak pemasok dari berbagai daerah agar dapat bergabung dalam jaringan rantai pasok internasional.

China dan Amerika Serikat Jadi Mitra Utama, Pasar Eropa Dinilai Potensial

Anindya menilai peningkatan kapasitas industri nasional perlu berjalan beriringan dengan perluasan akses pasar ekspor melalui penguatan hubungan perdagangan dengan berbagai negara mitra.

China dan Amerika Serikat disebut sebagai dua mitra perdagangan utama Indonesia, sementara negara-negara Eropa dinilai memiliki potensi yang semakin besar sebagai tujuan pemasaran produk nasional.

"Saya rasa tentunya negara yang paling besar transaksinya adalah China, yang kedua adalah Amerika, tapi yang kelihatannya emerging adalah negara-negara di Eropa yang membutuhkan produk kita," ujarnya.

Dalam diskusi panel DTIIF 2026, Anindya menjelaskan bahwa kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Uni Eropa dapat membuka peluang perdagangan lebih luas bagi berbagai produk industri nasional.

Sejumlah kelompok produk yang dinilai memiliki peluang memperluas pasar di Eropa meliputi alas kaki, tekstil, pakaian jadi, elektronik, dan furnitur.

Selain kawasan Eropa, Anindya juga memandang negara-negara anggota BRICS sebagai pasar potensial untuk memperluas hubungan perdagangan dan kerja sama ekonomi internasional.

Perluasan pasar tersebut diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap produk industri Indonesia sekaligus memperkuat keterlibatan perusahaan nasional dalam perdagangan global.

Ekspor Industri Pengolahan Indonesia Tembus Rp2.894 Triliun

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor industri pengolahan Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 159,55 miliar dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp2.894 triliun.

Nilai tersebut meningkat sebesar 7,87 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Industri pengolahan juga menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Indonesia dengan kontribusi mencapai 85,95 persen dari total ekspor nonmigas selama Januari–Agustus 2026.

Dari sisi negara tujuan, China menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan pangsa mencapai 25,55 persen.

Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan pangsa sebesar 12,07 persen, disusul India sebesar 6,88 persen.

Data tersebut menunjukkan besarnya kontribusi industri pengolahan terhadap struktur ekspor nasional serta pentingnya pasar internasional bagi pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia.

Melalui peningkatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, pengembangan merek nasional, dan perluasan akses ekspor, Kadin berupaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus mendorong industri dalam negeri menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026