HOME  ⁄  Ekonomi

Bulog Semarang Kerahkan Tim Jemput Gabah, Serap 188 Ribu Ton Hasil Panen Petani dan Lampaui Target

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Bulog Semarang Kerahkan Tim Jemput Gabah, Serap 188 Ribu Ton Hasil Panen Petani dan Lampaui Target
Foto: Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Semarang Yudha Ajipribawa menunjukan stok beras di Gudang Tambakaji, Semarang, Jawa Tengah, Jumat 30/10/2026 (sumber: ANTARA/Harianto)

Pantau - Perum Bulog Kantor Cabang Semarang, Jawa Tengah, mengoptimalkan Tim Jemput Gabah untuk mempercepat penyerapan hasil panen petani yang telah mencapai 188.000 ton gabah kering panen (GKP) atau sekitar 103 persen dari target pengadaan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional melalui peningkatan penyerapan hasil produksi pertanian.

Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Semarang, Yudha Ajipribawa, mengatakan Tim Jemput Gabah bertugas mendatangi langsung lokasi panen agar hasil produksi petani dapat terserap secara maksimal.

"Tim Jemput Gabah salah satu sarana yang kita pakai untuk menyerap gabah petani karena kita harus mengawal swasembada. Tim ini rata-rata pegawai Bulog Semarang," kata Yudha saat ditemui di Semarang, Jawa Tengah, Jumat.

Menurut Yudha, tim tersebut sebagian besar beranggotakan pegawai Bulog Semarang yang secara aktif bergerak ke berbagai area persawahan untuk mempercepat proses pengadaan gabah.

Keberadaan tim ini diharapkan mempermudah petani dalam menjual hasil panen sekaligus memastikan pengadaan gabah berjalan sesuai kebutuhan pemerintah.

Tim Jemput Gabah Datangi Langsung Sawah Petani

Dalam menjalankan tugasnya, Tim Jemput Gabah memanfaatkan informasi mengenai lokasi dan jadwal panen dari berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan pertanian.

Informasi tersebut diperoleh melalui petani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), penyuluh pertanian lapangan (PPL), Bintara Pembina Desa (Babinsa), serta dinas pertanian setempat.

Koordinasi dilakukan sejak awal untuk memastikan petugas Bulog mengetahui lokasi persawahan yang akan memasuki masa panen.

Data mengenai waktu dan lokasi panen kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan rencana penyerapan gabah di wilayah kerja Bulog Semarang.

Setelah menerima informasi tersebut, Bulog segera menyiapkan petugas lapangan, armada pengangkut, dan kebutuhan teknis lainnya untuk mendukung proses pembelian gabah.

Tim Jemput Gabah selanjutnya mendatangi langsung lahan pertanian yang sedang memasuki masa panen untuk melakukan penyerapan hasil produksi petani.

Proses pengadaan mencakup pemeriksaan kondisi gabah, penimbangan hasil panen, hingga pembelian gabah sesuai ketentuan yang berlaku.

Bulog juga melibatkan petugas pemeriksa kualitas untuk memastikan gabah yang dibeli memenuhi persyaratan pengadaan sebelum diproses menjadi beras.

Seluruh tahapan pemeriksaan, penimbangan, dan pembelian dilakukan melalui pencatatan yang tertib dan transparan.

Petani Tak Perlu Mencari Pembeli Hasil Panen

Keberadaan Tim Jemput Gabah memberikan kemudahan bagi petani karena mereka tidak perlu mencari pembeli atau mengangkut sendiri hasil panennya ke lokasi pembelian Bulog.

Melalui sistem tersebut, petugas Bulog mendatangi langsung area persawahan untuk melakukan pembelian gabah dari petani.

Pola jemput gabah juga bertujuan mempercepat penyerapan hasil pertanian sehingga proses pengadaan dapat dilakukan segera setelah panen berlangsung.

Selain memberikan kemudahan pemasaran hasil panen, sistem tersebut memperkuat komunikasi antara Bulog dan petani.

Koordinasi yang terjalin secara langsung memungkinkan Bulog memperoleh informasi lebih cepat mengenai perkembangan musim panen dan ketersediaan gabah di lapangan.

Hubungan tersebut juga mendukung kerja sama berkelanjutan antara Bulog, kelompok tani, penyuluh pertanian, dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengadaan pangan.

Gabah Petani Diolah Menjadi Cadangan Beras Pemerintah

Gabah yang telah dibeli melalui Tim Jemput Gabah selanjutnya dikirim ke Sentra Penggilingan Padi (SPP) atau mitra pengolahan yang bekerja sama dengan Bulog.

Di fasilitas tersebut, gabah diproses menjadi beras sebelum disimpan sebagai bagian dari Cadangan Beras Pemerintah.

Pengolahan dilakukan untuk memastikan hasil pengadaan gabah dapat menjadi persediaan beras yang dikelola pemerintah.

Yudha menjelaskan bahwa realisasi pengadaan gabah kering panen di wilayah kerja Bulog Semarang telah mencapai 188.000 ton.

Namun, angka tersebut merupakan jumlah gabah kering panen yang berhasil diserap, bukan jumlah stok beras yang tersedia di gudang Bulog.

Sementara itu, persediaan beras yang saat ini dikelola Bulog Semarang mencapai sekitar 81.000 ton.

Stok tersebut menjadi bagian dari cadangan pangan pemerintah untuk mendukung ketersediaan beras.

Penyerapan Gabah Bulog Semarang Tembus 103 Persen

Perum Bulog Kantor Cabang Semarang mencatat realisasi penyerapan gabah telah melampaui target pengadaan yang sebelumnya ditetapkan.

Yudha menyampaikan bahwa capaian pengadaan GKP mencapai sekitar 103 persen dari target.

Realisasi tersebut menunjukkan bahwa volume gabah yang berhasil dibeli Bulog Semarang telah melebihi sasaran pengadaan yang direncanakan.

Optimalisasi Tim Jemput Gabah menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mempertahankan penyerapan hasil panen petani di berbagai wilayah kerja.

Melalui koordinasi dengan petani, Gapoktan, PPL, Babinsa, dan dinas pertanian, Bulog berupaya memastikan informasi panen dapat segera ditindaklanjuti dengan proses pembelian gabah.

Sistem penjemputan langsung juga membantu mempercepat distribusi gabah dari lokasi panen menuju fasilitas pengolahan.

Dengan realisasi pengadaan mencapai 188.000 ton GKP dan stok beras sekitar 81.000 ton, Bulog Semarang terus mengoptimalkan penyerapan hasil pertanian untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah dan mendukung swasembada pangan nasional.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026