HOME  ⁄  Ekonomi

Produksi Batu Bara Kaltim Disesuaikan pada 2026, Riset Brida Ungkap Dampak terhadap Ekonomi Daerah dan Lapangan Kerja

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Produksi Batu Bara Kaltim Disesuaikan pada 2026, Riset Brida Ungkap Dampak terhadap Ekonomi Daerah dan Lapangan Kerja
Foto: (Sumber :Arsip foto - Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur (2/12/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/bar.)

Pantau - Penyesuaian kuota produksi batu bara di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2026 menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpotensi memengaruhi pendapatan daerah, kesempatan kerja, dan aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertambangan.

Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kalimantan Timur melakukan kajian untuk mengidentifikasi dampak ekonomi dan sosial dari perubahan kebijakan produksi batu bara tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, mulai dari kepastian regulasi, pengelolaan fiskal daerah, perlindungan tenaga kerja, hingga upaya diversifikasi ekonomi.

Kepala Brida Kaltim Fitriansyah mengatakan penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui kesenjangan antara perencanaan kebijakan pertambangan dan kondisi yang dialami masyarakat.

"Riset ini bukan untuk menuduh atau menentang kebijakan tertentu. Tujuannya sederhana, memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tetap memerhatikan mereka yang paling terdampak," ujar Fitriansyah pada Rabu (28/10/2026).

Penyesuaian Produksi Batu Bara Berdampak pada Ekonomi Kalimantan Timur

Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah penghasil batu bara yang memiliki peran penting dalam kegiatan pertambangan nasional.

Selama puluhan tahun, komoditas tersebut menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi dan sumber pendapatan daerah.

Ketergantungan terhadap sektor pertambangan membuat perubahan kuota produksi batu bara berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai kegiatan ekonomi.

Di wilayah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap industri pertambangan, penyesuaian produksi dapat memengaruhi penerimaan pemerintah daerah dan kesempatan kerja masyarakat.

Perubahan aktivitas produksi juga dapat berdampak pada kegiatan usaha yang berkaitan dengan operasional perusahaan pertambangan.

Namun, dampak penyesuaian tersebut tidak selalu dirasakan secara merata di seluruh wilayah Kalimantan Timur.

Daerah dengan ketergantungan ekonomi lebih besar terhadap batu bara menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan wilayah dengan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Brida Kaltim melakukan penelitian mengenai dampak penyesuaian produksi terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.

Brida Kaltim Teliti Delapan Aspek Dampak Kebijakan Pertambangan

Dalam pelaksanaan penelitian, tim Brida Kaltim mengkaji delapan dimensi yang berkaitan dengan kebijakan produksi batu bara.

Aspek yang diteliti mencakup regulasi dan kebijakan, fiskal, perlindungan ketenagakerjaan, data dan informasi, serta kelembagaan.

Selain itu, penelitian juga mencakup perizinan, kondisi sosial dan lingkungan, serta diversifikasi ekonomi daerah.

Kajian tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai persoalan yang muncul akibat perubahan kebijakan produksi pertambangan.

Ketua Tim Riset sekaligus Peneliti Ahli Utama Brida Kaltim Rizky Maharani menjelaskan bahwa hasil penelitian menemukan sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.

Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah kepastian waktu penerbitan persetujuan Rencana Kegiatan dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan pertambangan.

Menurut hasil kajian, persetujuan RKAB idealnya diterbitkan sebelum tahun kegiatan berjalan agar perusahaan dan pemerintah daerah memiliki kepastian dalam menyusun perencanaan.

Kepastian tersebut diperlukan karena dokumen RKAB berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan produksi perusahaan pertambangan.

Persetujuan RKAB 2026 Terlambat, Perusahaan Tambang Hadapi Ketidakpastian

Hasil penelitian Brida Kaltim menunjukkan bahwa persetujuan RKAB pertambangan untuk 2026 baru diterbitkan pada April.

Proses persetujuan tersebut mengalami jeda sekitar tiga hingga sembilan bulan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keterlambatan penerbitan RKAB dapat memengaruhi kepastian perencanaan kegiatan perusahaan pertambangan.

Salah satu perusahaan yang mengalami proses revisi RKAB adalah PT Bayan Resources.

Berdasarkan hasil kajian, revisi RKAB perusahaan tersebut baru diselesaikan pada 21 September 2026.

Sebelum revisi tersebut selesai, PT Bayan Resources sempat mengumumkan kondisi kahar atau force majeure kepada mitra dagang dan pembeli.

Pengumuman tersebut menjadi salah satu perkembangan yang dicatat dalam penelitian mengenai dampak penyesuaian kebijakan produksi batu bara.

Keterlambatan persetujuan dan revisi RKAB menunjukkan pentingnya kepastian jadwal administrasi dalam pengelolaan sektor pertambangan.

Brida Soroti Perlindungan Pekerja dan Pendapatan Daerah

Selain persoalan regulasi, penelitian Brida Kaltim turut menempatkan perlindungan ketenagakerjaan sebagai salah satu aspek penting dalam menghadapi penyesuaian produksi batu bara.

Perubahan kegiatan produksi menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kesempatan kerja di daerah yang bergantung pada aktivitas pertambangan.

Kajian tersebut juga mencakup aspek fiskal untuk melihat keterkaitan kebijakan produksi dengan kondisi penerimaan pemerintah daerah.

Di samping itu, aspek sosial dan lingkungan menjadi bagian dari penelitian untuk memahami dampak kebijakan terhadap masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.

Brida Kaltim menilai hasil kajian diperlukan sebagai bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan yang memperhatikan keberlanjutan ekonomi daerah.

Penelitian tersebut tidak hanya berfokus pada kepentingan perusahaan pertambangan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi masyarakat yang berpotensi terdampak.

Diversifikasi Ekonomi Jadi Bagian dari Kajian Brida Kaltim

Upaya diversifikasi ekonomi menjadi salah satu dari delapan dimensi yang dikaji Brida Kaltim dalam menghadapi perubahan produksi batu bara.

Aspek tersebut berkaitan dengan kebutuhan daerah untuk memperhatikan keberlanjutan kegiatan ekonomi di tengah perubahan kebijakan sektor pertambangan.

Ketergantungan terhadap batu bara menjadi persoalan yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah.

Melalui penelitian tersebut, Brida Kaltim berupaya menyediakan bahan evaluasi bagi pengelolaan sektor pertambangan agar tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.

Hasil kajian juga diharapkan dapat mendukung penyusunan kebijakan yang mempertimbangkan kondisi ekonomi, ketenagakerjaan, dan sosial secara bersamaan.

Fitriansyah menegaskan bahwa penelitian dilakukan bukan untuk menentang kebijakan pemerintah, melainkan untuk memastikan dampaknya terhadap masyarakat tetap menjadi perhatian.

Dengan mengkaji delapan dimensi kebijakan, Brida Kaltim berupaya memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi Kalimantan Timur dalam menyesuaikan kegiatan ekonomi dengan perubahan produksi batu bara pada 2026.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026