HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 0,97 Persen ke 4.856,96, Pasar Saham Asia Tertekan Jelang Hasil Pemilu Paruh Waktu AS

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Anjlok 0,97 Persen ke 4.856,96, Pasar Saham Asia Tertekan Jelang Hasil Pemilu Paruh Waktu AS
Foto: (Sumber :Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (30/10/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 47,33 poin atau 0,97 persen ke level 4.856,96 pada perdagangan Rabu, 4 November 2026, mengikuti penurunan bursa saham Asia di tengah perhatian investor terhadap hasil pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan turun 3,51 poin atau 0,71 persen ke posisi 493,76.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami tekanan apabila tidak mampu bertahan di atas level penopang teknikal 4.900.

"Secara teknikal, IHSG berpotensi akan uji level 4.650-4.750 apabila support di level 4.900 tidak mampu menahan penurunan lebih lanjut," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Pemilu Paruh Waktu AS Jadi Perhatian Investor

Ratna menjelaskan bahwa pelaku pasar global sedang mencermati hasil pemilu paruh waktu atau midterm election Amerika Serikat.

Hasil pemilu tersebut dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan ekonomi dan sejumlah sektor industri, termasuk teknologi serta utilitas.

Menurutnya, inflasi menjadi salah satu isu utama dalam pemilu AS, terutama setelah kenaikan harga energi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Peningkatan harga bensin dan solar disebut turut menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat Amerika.

"Kuatnya belanja konsumen serta investasi di bidang AI telah membantu menopang pertumbuhan ekonomi AS secara lebih luas. Namun sebagian pemilih juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja," ujar Ratna.

Ketidakpastian arah kebijakan fiskal AS setelah pemilu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sikap investor di pasar keuangan global.

Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Pengaruhi Sentimen Pasar

Selain pemilu, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian investor.

Upaya diplomatik melalui Qatar dilaporkan terus berlangsung setelah negara tersebut mengirimkan mediator ke Teheran untuk membahas rancangan kesepakatan dengan Washington.

Namun, Iran disebut belum menganggap respons Amerika Serikat terhadap tuntutannya cukup meyakinkan.

Ketegangan juga meningkat setelah muncul laporan serangan AS terhadap sistem rudal pertahanan udara Iran serta serangan di Pulau Qeshm pada Selasa, 3 November 2026.

Di tengah perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam kemungkinan tindakan militer, meskipun peluang penyelesaian diplomatik masih menjadi harapan pelaku pasar.

Harga minyak mentah dunia pada Selasa tercatat melemah, dengan minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 96 dolar AS per barel dan Brent sekitar 103 dolar AS per barel.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari enam basis poin ke level 4,96 persen.

"Penguatan dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS memberikan tekanan pada emas, sementara para investor menantikan hasil pemilu midterm AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan fiskal," ujar Ratna.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Turun Jadi 5,4–5,5 Persen

Dari dalam negeri, Ratna menyoroti keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026.

KSSK memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,4 hingga 5,5 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,6 hingga 6,0 persen.

Menurut Ratna, revisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan tekanan eksternal terhadap prospek perekonomian nasional.

"Revisi ini berpotensi membatasi optimisme investor terhadap prospek laba emiten, terutama sektor yang sensitif terhadap daya beli dan aktivitas ekonomi, seperti konsumer, ritel, dan properti," ujar Ratna.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah tidak akan menerapkan skema pungutan pajak baru pada 9 November 2026.

Penegasan tersebut mencakup isu pungutan pajak digital terhadap sektor perbankan, teknologi finansial, dan perdagangan elektronik.

"Klarifikasi itu diharapkan meredakan kekhawatiran pelaku usaha dan masyarakat terhadap potensi kenaikan biaya transaksi digital," ujar Ratna.

Aturan DHE SDA dan Pelemahan Bursa Asia Turut Dicermati

Pemerintah juga tengah merancang perubahan ketentuan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) untuk mendorong eksportir mengonversi lebih banyak penerimaan dolar AS menjadi rupiah.

Ratna menilai kebijakan tersebut berpotensi memperkuat likuiditas dan ketahanan pasar keuangan domestik, meskipun dampaknya terhadap fleksibilitas keuangan eksportir tetap perlu diperhatikan.

"Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat likuiditas dan meningkatkan ketahanan pasar keuangan domestik, namun perlu dicermati dampaknya terhadap fleksibilitas likuiditas eksportir," ujar Ratna.

Pada perdagangan Rabu pagi, sejumlah bursa utama Asia turut mengalami pelemahan.

Indeks Nikkei Jepang turun 3,70 persen ke posisi 60.746,86, sedangkan Kospi Korea Selatan melemah 3,25 persen ke level 5.465,17.

Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,42 persen ke 23.428,95, Shanghai melemah 0,26 persen ke 3.598,74, dan Straits Times Singapura terkoreksi 1,12 persen ke 5.210,99.

Sebelumnya, bursa Eropa juga ditutup melemah pada Selasa, dengan FTSE 100 Inggris turun 1,14 persen, Euro Stoxx 50 melemah 0,61 persen, DAX Jerman turun 0,45 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,34 persen.

Sementara itu, Wall Street bergerak bervariasi setelah indeks S&P 500 naik 0,37 persen dan Nasdaq Composite menguat 0,83 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,38 persen.

Pergerakan IHSG selanjutnya diperkirakan tetap dipengaruhi hasil pemilu paruh waktu AS, perkembangan geopolitik, serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026