HOME  ⁄  Ekonomi

Ekspor Sagu Indonesia ke Jepang Melonjak, Menperin Sebut Pangsa Pasar Capai 14 Persen pada 2025

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Ekspor Sagu Indonesia ke Jepang Melonjak, Menperin Sebut Pangsa Pasar Capai 14 Persen pada 2025
Foto: Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji memberi keterangan kepada awak media, usai kegiatan Sago Business Forum 2026, di Jakarta, Kamis 5/11/2026 (sumber: ANTARA/Harianto)

Pantau - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengungkapkan bahwa Jepang menjadi pasar utama ekspor sagu Indonesia dengan pangsa pasokan pati sagu mencapai 14 persen dari total kebutuhan negara tersebut pada 2025.

Capaian tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan 2021, ketika Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 2 persen kebutuhan pati sagu Jepang.

Sarmuji menyampaikan perkembangan ekspor komoditas tersebut seusai membuka kegiatan Sago Business Forum 2026 di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

"Ekspor sagu lebih banyak ke Jepang, data terbaru 2025 baru 14 persen kebutuhan sagu Jepang yang kita suplai dari Indonesia, tetapi itu menunjukkan peningkatan," kata Sarmuji.

Menurutnya, peningkatan pangsa pasar tersebut menunjukkan semakin besarnya peluang industri sagu nasional untuk memperkuat posisi di pasar internasional, khususnya Jepang.

Pangsa Pasar Sagu Indonesia di Jepang Naik dari 2 Menjadi 14 Persen

Berdasarkan data yang disampaikan Sarmuji, pangsa pasokan pati sagu Indonesia terhadap kebutuhan Jepang mengalami peningkatan secara bertahap selama lima tahun terakhir.

Pada 2021, Indonesia baru memasok sekitar 2 persen kebutuhan pati sagu Jepang sebelum meningkat menjadi 7 persen pada 2022.

Tren positif tersebut berlanjut pada 2023 dengan pangsa pasar mencapai 8 persen, kemudian kembali meningkat menjadi 9 persen pada 2024.

Memasuki 2025, kontribusi Indonesia terhadap kebutuhan pati sagu Jepang mencapai 14 persen atau bertambah 12 poin persentase dibandingkan capaian pada 2021.

Sarmuji menjelaskan bahwa peluang peningkatan ekspor masih terbuka lebar seiring pertumbuhan kebutuhan impor pati sagu Jepang.

Berdasarkan data yang disampaikannya, kebutuhan impor pati sagu Jepang mencapai angka 10,5 juta pada 2025 atau meningkat sekitar 35 persen dibandingkan 2021, meskipun satuan angka tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut.

Pertumbuhan kebutuhan impor tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor sekaligus memperluas kontribusi produk pati sagu nasional di pasar Jepang.

"Tentu saja peningkatan pangsa pasar tersebut menunjukkan semakin besarnya peluang bagi produk pati sagu Indonesia untuk memperkuat posisinya di pasar Jepang," tutur Sarmuji.

Pemerintah pun berupaya memanfaatkan perkembangan tersebut melalui penguatan industri hilir, peningkatan investasi, dan perluasan akses pasar ekspor.

Pemerintah Perkuat Kemitraan Industri Sagu Indonesia dan Jepang

Sarmuji menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan kemitraan antara pelaku industri sagu Indonesia dan Jepang untuk memperluas peluang perdagangan serta investasi.

Kemitraan tersebut diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan industri Jepang dengan potensi produksi dan pengolahan sagu Indonesia.

Ia mengungkapkan bahwa seorang profesor asal Jepang telah menyatakan kesediaannya menjadi penghubung kerja sama antara kedua negara, khususnya dalam pengembangan industri dan perdagangan sagu.

Profesor tersebut diharapkan dapat membantu menjembatani komunikasi, pertukaran informasi, dan pengembangan kerja sama yang berkaitan dengan komoditas sagu.

"Kita akan dorong melalui kemitraan. Tadi ada yang siap menjadi jembatan, Profesor dari Jepang tadi, siap menjadi jembatan antara Indonesia dan Jepang khusus untuk sagu, bahkan berani mendeklarasikan, 'Tanya apa saja ke kami tentang sagu,' katanya. Itu luar biasa itu," ucap Sarmuji.

Menurut Sarmuji, pengembangan industri sagu nasional membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dan tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah.

Kolaborasi tersebut melibatkan investor, pelaku usaha, pemerintah daerah, serta mitra internasional untuk meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah produk sagu Indonesia.

Penguatan kerja sama juga diarahkan untuk mempercepat hilirisasi komoditas sagu agar produk olahannya memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

Menperin Undang Investor Jepang Kembangkan Industri Sagu Nasional

Melalui penyelenggaraan Sago Business Forum 2026, Sarmuji berharap hubungan industri Indonesia dan Jepang semakin erat, terutama dalam pengembangan komoditas sagu.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk mempromosikan potensi industri sagu nasional, memperkenalkan peluang investasi, serta mendorong pengembangan teknologi pengolahan.

Sarmuji juga secara terbuka mengundang pelaku industri dan investor asal Jepang untuk menjajaki peluang kerja sama dengan industri sagu Indonesia.

Peluang investasi tersebut terutama diarahkan pada wilayah penghasil sagu yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pusat produksi dan pengolahan komoditas pangan tersebut.

Keterlibatan investor Jepang diharapkan dapat memperkuat industri pengolahan sagu nasional sekaligus membuka akses pemasaran yang lebih luas ke pasar internasional.

Selain memperbesar peluang ekspor, pengembangan industri sagu juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk olahan Indonesia melalui pemanfaatan teknologi dan investasi.

Pengembangan Industri Sagu Jadi Bagian Penguatan Kedaulatan Pangan

Sarmuji menegaskan bahwa pengembangan industri sagu nasional tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.

Sagu merupakan salah satu sumber pangan lokal yang memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan melalui peningkatan kapasitas industri dan pengolahan produk bernilai tambah.

Melalui penguatan hilirisasi, pemerintah berupaya meningkatkan pemanfaatan komoditas sagu agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Pengembangan tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang investasi dan memperkuat keterlibatan daerah penghasil sagu dalam rantai industri pangan.

Dengan meningkatnya pangsa pasar di Jepang serta terbukanya peluang kemitraan internasional, pemerintah berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok pati sagu sekaligus meningkatkan daya saing industri pangan nasional di pasar global.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026