HOME  ⁄  Ekonomi

Kemenangan Demokrat dalam Pemilu AS Pengaruhi Rupiah, Ekonom Prediksi Kurs Bergerak di Rp18.025–Rp18.125 per Dolar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemenangan Demokrat dalam Pemilu AS Pengaruhi Rupiah, Ekonom Prediksi Kurs Bergerak di Rp18.025–Rp18.125 per Dolar
Foto: (Sumber :Petugas melayani penukaran uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz.)

Pantau - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan pergerakan nilai tukar rupiah pada Jumat (6/11/2026) dipengaruhi hasil pemilu sela Amerika Serikat yang dimenangkan Partai Demokrat, serta perubahan sentimen investor di pasar keuangan global.

Josua memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.025 hingga Rp18.125 per dolar AS sepanjang perdagangan Jumat.

Menurutnya, kemenangan Partai Demokrat awalnya meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, tetapi perkembangan berikutnya memicu penyesuaian portofolio investasi di pasar keuangan Amerika Serikat.

“Hasil pemilu tersebut pada awalnya meningkatkan selera risiko di pasar keuangan global, ditambah dengan berlanjutnya penurunan harga minyak dunia,” ucap Josua kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Kemenangan Demokrat Picu Perubahan Sentimen Pasar Global

Josua menjelaskan bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan dampak politik dan ekonomi dari kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat pada Selasa (3/11/2026).

Hasil pemilu tersebut memicu perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan ekonomi dan regulasi di Amerika Serikat.

Menurut Josua, pasar saham Amerika Serikat mengalami aksi jual secara luas ketika investor mulai mencermati konsekuensi kemenangan Demokrat.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Investor disebut mulai mengurangi kepemilikan saham yang berkaitan dengan AI dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven.

Perubahan tersebut dipengaruhi kekhawatiran bahwa sejumlah pejabat Partai Demokrat yang baru terpilih berpotensi mendorong regulasi lebih ketat terhadap industri AI.

Peralihan investasi tersebut turut memengaruhi sentimen pasar keuangan global, termasuk pergerakan mata uang negara berkembang.

Rupiah Diperkirakan Bergerak pada Kisaran Rp18.025–Rp18.125

Josua memperkirakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika pasar global sepanjang perdagangan Jumat.

“Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp18.025–Rp18.125 per dolar AS,” kata dia.

Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah tercatat melemah 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp18.095 per dolar AS.

Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.082 per dolar AS.

Dengan demikian, posisi rupiah pada pembukaan perdagangan masih berada dalam rentang yang diperkirakan Josua.

Selain hasil pemilu Amerika Serikat, penurunan harga minyak dunia juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor.

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen pada Kuartal III 2026

Dari dalam negeri, Josua menyoroti data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan atau year on year pada kuartal III 2026.

Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,29 persen secara tahunan.

Menurut Josua, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan terutama didukung peningkatan ekspor dan perubahan inventori.

Namun, penguatan pertumbuhan tersebut terjadi di tengah kondisi permintaan domestik yang melemah.

Perkembangan ekonomi nasional menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar dalam menilai prospek aset keuangan Indonesia.

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Turun di Berbagai Tenor

Josua juga mencatat penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Penurunan terjadi pada seluruh tenor acuan yang diamati, seiring membaiknya sentimen risiko global dan berlanjutnya penurunan harga minyak dunia.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor lima tahun turun 20 basis poin menjadi 7,38 persen.

Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun turun delapan basis poin menjadi 7,66 persen.

Untuk tenor 15 tahun, imbal hasil turun dua basis poin menjadi 7,73 persen, sedangkan tenor 20 tahun turun tujuh basis poin menjadi 7,69 persen.

Penurunan imbal hasil tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan obligasi pemerintah.

Transaksi Obligasi Naik, Kepemilikan Investor Asing Menurun

Total volume transaksi obligasi pemerintah Indonesia meningkat menjadi Rp25,9 triliun pada perdagangan Kamis.

Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan volume transaksi perdagangan sebelumnya sebesar Rp19,46 triliun.

Meski aktivitas perdagangan meningkat, data menunjukkan kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia mengalami penurunan.

“Namun demikian, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia tercatat turun sebesar Rp0,68 triliun menjadi Rp915 triliun per 4 November 2026, setara dengan 12,97 persen dari total outstanding,” ungkap Josua.

Data tersebut menunjukkan adanya penurunan kepemilikan asing di tengah meningkatnya aktivitas transaksi pasar obligasi domestik.

Pergerakan rupiah selanjutnya diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan politik Amerika Serikat, perubahan minat risiko investor global, serta kondisi perekonomian Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026