HOME  ⁄  Ekonomi

PLN Manfaatkan Limbah Batu Bara PLTU Holtekamp Jadi Rumah Ikan di Jayapura, Bantu Nelayan Hadapi Sulitnya Hasil Tangkapan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

PLN Manfaatkan Limbah Batu Bara PLTU Holtekamp Jadi Rumah Ikan di Jayapura, Bantu Nelayan Hadapi Sulitnya Hasil Tangkapan
Foto: (Sumber :Rumah ikan yang terbuat dari material FABA PLTU Holtekamp diturunkan ke dasar laut di Kota Jayapura, Papua. ANTARA/HO-PLN Papua/am..)

Pantau - PT PLN (Persero) memanfaatkan limbah padat hasil pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Holtekamp menjadi rumah ikan atau terumbu buatan di perairan Kota Jayapura, Papua, sebagai upaya mendukung pemulihan ekosistem pesisir dan membantu nelayan yang semakin kesulitan mendapatkan ikan di sekitar pantai.

Program tersebut dikembangkan PLN bersama komunitas EAB Outdoor dengan menggunakan material Fly Ash and Bottom Ash (FABA) sebagai bahan pembuatan struktur bawah laut yang dapat dimanfaatkan biota laut.

Rumah ikan tersebut diharapkan menjadi tempat berlindung dan berkembang bagi biota laut sekaligus mendukung aktivitas penangkapan ikan masyarakat pesisir Holtekamp.

Inisiatif ini muncul di tengah perubahan kondisi perairan yang membuat sejumlah nelayan harus melaut lebih jauh untuk memperoleh hasil tangkapan.

Nelayan Holtekamp Harus Melaut hingga 10 Kilometer untuk Mencari Ikan

Maickhel Awee, nelayan berusia 55 tahun asal kawasan Holtekamp, mengaku semakin sulit menemukan ikan di perairan dekat pantai.

Ia biasanya mulai melaut sekitar pukul 06.00 WIT dengan menyiapkan perahu dan perlengkapan penangkapan ikan sejak pagi.

Untuk memperoleh hasil tangkapan, Maickhel kini harus menempuh perjalanan hingga sekitar 10 kilometer dari bibir pantai.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan masa ketika ia masih mengikuti orang tuanya mencari ikan.

"Dulu, waktu ikut orang tua melaut, kami hanya mencari ikan di bibir pantai saja su dekat tapi sekarang harus pergi 10 kilometer baru bisa dapat ikan," katanya pada Kamis (5/11/2026).

Maickhel mengaku telah mengenal aktivitas melaut sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Pengalaman tersebut membuatnya cukup memahami karakter perairan Pantai Holtekamp dan perubahan kondisi yang terjadi dari waktu ke waktu.

Ia menilai perubahan arus laut menjadi salah satu penyebab ikan semakin sulit ditemukan di sekitar pesisir.

Selain itu, Maickhel mengaitkan berkurangnya keberadaan ikan di dekat pantai dengan abrasi, kerusakan terumbu karang, dan pencemaran sampah rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat nelayan harus mencari lokasi penangkapan yang lebih jauh dibandingkan sebelumnya.

PLN Ubah Limbah FABA PLTU Menjadi Terumbu Buatan

Melihat persoalan yang dihadapi nelayan, PLN mengembangkan pemanfaatan material FABA dari PLTU Holtekamp untuk membuat rumah ikan.

FABA merupakan material padat berupa abu terbang dan abu dasar yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara di pembangkit listrik tenaga uap.

Dalam program ini, material tersebut dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan struktur buatan yang ditempatkan di dasar laut.

Struktur rumah ikan dirancang untuk menyediakan ruang yang dapat digunakan biota laut sebagai tempat berlindung dan berkembang.

PLN bekerja sama dengan komunitas EAB Outdoor dalam pengembangan rumah ikan tersebut.

Program ini diarahkan untuk mendukung pemulihan kondisi ekosistem pesisir sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi bagi masyarakat nelayan.

Pemanfaatan FABA juga menjadi contoh penggunaan material hasil kegiatan pembangkitan listrik untuk kebutuhan lain di luar sektor energi.

Kondisi Dasar Laut Holtekamp Jadi Pertimbangan Pembuatan Rumah Ikan

Perwakilan komunitas EAB Outdoor, Fendy Joyo, menjelaskan bahwa gagasan pembuatan rumah ikan berawal dari pengamatan terhadap kondisi pesisir Holtekamp.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki dasar perairan yang didominasi hamparan pasir dengan keberadaan terumbu karang yang terbatas.

Kondisi itu mendorong komunitasnya mencari cara untuk menyediakan struktur bawah laut yang dapat dimanfaatkan biota laut.

Dari pengamatan tersebut, EAB Outdoor kemudian melihat potensi material FABA sebagai bahan pembuatan rumah ikan.

Struktur buatan tersebut diharapkan dapat menyediakan tempat berlindung bagi ikan dan organisme laut lainnya.

Keberadaan rumah ikan juga diharapkan mendukung perkembangan kehidupan bawah laut di kawasan yang memiliki keterbatasan terumbu karang.

Melalui kerja sama dengan PLN, gagasan tersebut diwujudkan dalam pembuatan rumah ikan menggunakan material dari PLTU Holtekamp.

Rumah Ikan Diharapkan Mendukung Ekosistem Laut dan Ekonomi Nelayan

Pembuatan rumah ikan menjadi salah satu upaya untuk membantu mengatasi keterbatasan habitat ikan di perairan pesisir Holtekamp.

Bagi nelayan seperti Maickhel, perubahan keberadaan ikan di sekitar pantai berpengaruh terhadap jarak perjalanan dan upaya yang diperlukan untuk mencari tangkapan.

Nelayan juga harus mempelajari pola pergerakan ikan agar dapat menentukan lokasi dan waktu penangkapan yang sesuai.

Keberadaan terumbu buatan diharapkan dapat membantu menyediakan habitat bagi biota laut sehingga mendukung pemulihan ekosistem pesisir.

Dalam jangka panjang, program tersebut juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perikanan.

Meski demikian, informasi yang tersedia belum memuat data mengenai jumlah rumah ikan yang dipasang, perkembangan populasi ikan, maupun peningkatan hasil tangkapan nelayan setelah pemasangan struktur tersebut.

PLN dan EAB Outdoor mengembangkan program ini sebagai upaya pemanfaatan material FABA yang dikaitkan dengan kebutuhan pemulihan ekosistem laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir Jayapura.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026