
Pantau - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memperkuat hilirisasi komoditas kelapa sawit, kelapa, dan kakao dengan menggandeng 86 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di 20 provinsi guna meningkatkan nilai tambah produk perkebunan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya BPDP mengembangkan industri pengolahan berbasis komoditas perkebunan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh pekebun dan pelaku usaha di daerah.
Kepala Divisi Umum dan SDM BPDP Adi Sucipto menyampaikan langkah tersebut dalam ajang Indonesia Villages Expo & Forum (INDOVEX) 2026 yang berlangsung di Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (3/11/2026).
Melalui inisiatif Pengembangan Ekonomi Desa Melalui Produk UMKM Berbasis Kelapa Sawit, BPDP mendorong pemanfaatan hasil perkebunan menjadi berbagai produk inovatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
BPDP Dorong UMKM Olah Sawit Jadi Kosmetik hingga Material Industri
Adi Sucipto menjelaskan bahwa kelapa sawit tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas penghasil minyak nabati, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk industri.
Melalui kreativitas dan inovasi pelaku UMKM, komoditas tersebut dapat diolah menjadi kerajinan, kosmetik, batik, hingga material industri yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Program ini diarahkan untuk menciptakan peluang usaha, memperkuat kapasitas UMKM, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing produk lokal," ujarnya dalam Indonesia Villages Expo & Forum (INDOVEX) 2026 di Kota Batu, Jawa Timur.
Menurut Adi, pengembangan sektor perkebunan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi bahan baku, tetapi juga membutuhkan penguatan sumber daya manusia, inovasi teknologi, pembangunan infrastruktur, dan perluasan akses pasar.
Pendekatan tersebut diperlukan agar komoditas perkebunan tidak terus bergantung pada perdagangan bahan mentah, melainkan mampu menghasilkan produk olahan dengan nilai tambah lebih besar.
BPDP juga menargetkan manfaat pengembangan industri hilir dapat menjangkau masyarakat di kawasan sentra perkebunan, khususnya pekebun dan pelaku UMKM pedesaan.
Enam Program Unggulan BPDP Perkuat Industri Perkebunan Nasional
Dalam kegiatan tersebut, Adi memaparkan enam program unggulan BPDP untuk memperkuat ekosistem perkebunan nasional dari sektor hulu hingga hilir.
Program pertama adalah peremajaan perkebunan melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), baik melalui jalur kedinasan maupun kemitraan, untuk memperbaiki kondisi kebun dan meningkatkan produktivitas.
Program kedua mencakup penelitian dan pengembangan melalui dukungan pembiayaan riset serta inovasi teknologi yang dapat diterapkan pada berbagai tahapan industri perkebunan.
Program ketiga berfokus pada pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan, pendampingan, serta peningkatan kapasitas pekebun dan pelaku usaha.
Program keempat diarahkan pada pengembangan sarana dan prasarana untuk meningkatkan efisiensi kegiatan perkebunan sekaligus mendukung produktivitas.
Program kelima berupa promosi produk perkebunan untuk memperluas jaringan pemasaran, memperkenalkan hasil inovasi, dan membuka akses pasar melalui kerja sama dengan berbagai mitra.
Sementara itu, program keenam mencakup pemenuhan kebutuhan pangan, pengembangan bahan bakar nabati, serta penguatan hilirisasi untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.
Melalui enam program tersebut, BPDP berharap komoditas sawit, kelapa, dan kakao dapat menjadi penggerak munculnya peluang usaha baru di berbagai daerah.
"Penguatan UMKM menjadi bagian penting agar nilai tambah perkebunan dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat, terutama di kawasan pedesaan," kata Adi dalam kegiatan yang didukung BPDP tersebut.
Sebanyak 86 UMKM di 20 Provinsi Kembangkan Produk Inovatif
BPDP mencatat sebanyak 86 UMKM mitra yang tersebar di 20 provinsi telah masuk dalam sistem klasterisasi untuk mendukung pengembangan usaha sesuai kebutuhan dan tingkat kesiapan masing-masing.
Melalui kerja sama dan pendampingan tersebut, sejumlah UMKM berhasil mengembangkan produk inovatif berbasis kelapa sawit, kelapa, dan kakao.
Produk yang dihasilkan antara lain helm komposit dan rompi antipeluru berbasis serat sawit, batik menggunakan malam berbahan sawit, serta berbagai produk kerajinan dari tempurung dan pelepah kelapa.
Selain itu, pelaku UMKM juga mengembangkan produk kosmetik dan cokelat artisan yang memanfaatkan komoditas perkebunan sebagai bahan baku utama.
Pengembangan berbagai produk tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan bahan baku perkebunan untuk menghasilkan barang jadi melalui penerapan teknologi, kreativitas, dan inovasi desain.
Sistem klasterisasi yang diterapkan BPDP memungkinkan pembinaan dilakukan secara lebih terarah berdasarkan kapasitas produksi, kebutuhan pengembangan usaha, dan kesiapan masing-masing UMKM.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk, memperluas jangkauan pemasaran, serta memperkuat daya saing di pasar.
Apkasindo Dorong Hilirisasi Perkebunan Ciptakan Lapangan Kerja di Desa
Sementara itu, perwakilan Bidang Media dan Promosi DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Suharno, menilai kerja sama pemerintah, asosiasi, dunia usaha, dan komunitas UMKM menjadi faktor penting dalam memperkuat hilirisasi perkebunan.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari pertumbuhan industri pengolahan berskala besar, tetapi juga dari kemampuan pelaku UMKM mengembangkan produk inovatif dan meningkatkan pendapatan usaha.
Penguatan industri berbasis perkebunan juga diharapkan mampu memperluas akses pasar sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru bagi masyarakat di kawasan pedesaan.
"Di sinilah peran BPDP menjadi penting, yakni menjembatani potensi besar perkebunan nasional dengan peluang ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya.
Suharno menekankan bahwa hilirisasi perkebunan perlu melibatkan masyarakat desa sebagai pelaku utama dalam menciptakan nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan daerahnya.
Dengan keterlibatan UMKM, pengembangan industri perkebunan diharapkan tidak hanya terpusat pada perusahaan besar, tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membangun usaha berbasis potensi lokal.
BPDP terus mendorong kolaborasi berbagai pihak agar pengolahan komoditas perkebunan dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




