
Pantau - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mempercepat bantuan produksi jagung, menindaklanjuti permintaan pasokan jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 90 ton, serta mendorong pengembangan lahan jagung seluas 500 hektare untuk memperkuat rantai pasok antara petani dan peternak.
Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan koperasi sebagai penghubung antara petani jagung dan peternak guna memastikan hasil panen memiliki kepastian pasar sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku pakan ternak.
Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah tengah membangun sistem dan ekosistem baru yang mengintegrasikan kegiatan produksi jagung, penyerapan hasil panen, dan pemenuhan kebutuhan peternakan.
Dalam sistem tersebut, pemerintah akan memberikan dukungan berupa benih jagung gratis, pompa air, serta alat dan mesin pertanian (alsintan) sesuai kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Petani jagung dengan peternak satu kesatuan membentuk koperasi. Diberikan benih gratis dari pemerintah, setelah tumbuh juga pompa dengan alsintan, sesuai kemampuan APBN kita," kata Mentan Amran sebagaimana dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Kebijakan tersebut disampaikan setelah Mentan Amran berdialog langsung dengan petani jagung dan peternak di Blitar, Jawa Timur, untuk mendengarkan berbagai kendala yang mereka hadapi.
Mentan Amran Setujui Pengembangan 500 Hektare Lahan Jagung
Dalam dialog bersama petani dan peternak, Mentan Amran langsung merespons sejumlah aspirasi dengan mencatat permintaan di atas secarik kertas agar dapat segera ditindaklanjuti oleh jajaran terkait.
Salah satu aspirasi disampaikan Nur Syamsudin, peternak asal Blitar yang mengembangkan usaha di Kalimantan Tengah dan menyatakan kesiapan bekerja sama dengan petani setempat untuk mengembangkan lahan jagung seluas 500 hektare.
Mentan Amran kemudian menanyakan kemampuan Nur Syamsudin dalam merealisasikan rencana pengembangan lahan tersebut.
"Kalau 500 hektare mampulah," ujar Nur saat menjawab pertanyaan Mentan Amran mengenai kapasitas pengembangan lahan jagung.
Mendengar kesanggupan tersebut, Mentan Amran langsung meminta jajarannya mencatat rencana pengembangan 500 hektare lahan jagung untuk dikoordinasikan dengan pihak terkait.
Pengembangan lahan tersebut dirancang menjadi bagian dari ekosistem usaha yang menghubungkan petani jagung, koperasi, dan peternak dalam satu rantai produksi dan distribusi.
Melalui mekanisme tersebut, hasil panen jagung petani akan diserap koperasi sehingga petani memiliki kepastian pasar untuk menjual produksinya.
Apabila produksi jagung melebihi kebutuhan koperasi, pemerintah melalui Perum Bulog dapat membeli kelebihan hasil panen untuk disimpan sebagai cadangan.
Cadangan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan kembali oleh koperasi ketika kebutuhan jagung meningkat atau pasokan mengalami keterbatasan pada periode tertentu.
"Setelah dibeli, ada berlebih lagi produksinya, itu dibeli oleh pemerintah, Bulog. Tetapi koperasi itu yang menitip, itu yang bisa mengambil kembali pada bulan September, Oktober, November, Desember," tutur Mentan Amran.
Skema tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepastian penjualan hasil panen petani dan ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan bagi peternak sepanjang tahun.
Mentan Amran Instruksikan Penyaluran 50 Ton Jagung SPHP untuk Koperasi Magetan
Selain pengembangan produksi jagung, Mentan Amran merespons permintaan pasokan jagung SPHP sebanyak 50 ton dari Koperasi Koderma di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Permintaan tersebut disampaikan langsung dalam dialog bersama petani dan peternak yang membahas persoalan ketersediaan bahan baku pakan.
Setelah menerima aspirasi tersebut, Mentan Amran segera menginstruksikan jajaran terkait agar kebutuhan jagung Koperasi Koderma dilayani tanpa menunggu proses tindak lanjut yang berlarut-larut.
"Magetan ya, Mas? Ini koperasi apa namanya, Koderma. Layani 50 ton jagung hari ini," tegas Mentan Amran.
Instruksi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemenuhan kebutuhan jagung bagi koperasi peternak yang membutuhkan pasokan untuk mendukung kegiatan usahanya.
Pemerintah juga berupaya memastikan distribusi jagung SPHP dapat menjangkau koperasi yang telah mengajukan kebutuhan pasokan.
Peternak Lamongan Keluhkan Jagung SPHP Tahap Ketiga Belum Tersedia
Dalam kesempatan yang sama, Mentan Amran turut menerima keluhan dari Suparto, peternak asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terkait belum tersedianya pasokan jagung SPHP tahap ketiga bagi koperasinya.
Suparto menjelaskan bahwa koperasinya sebenarnya telah mendapatkan alokasi jagung SPHP tahap ketiga, tetapi pasokan yang dibutuhkan belum tersedia.
Kondisi tersebut menghambat pemenuhan kebutuhan jagung bagi peternak yang bergantung pada ketersediaan bahan baku pakan.
Mentan Amran kemudian menanyakan jumlah jagung yang dibutuhkan koperasi tersebut agar dapat segera ditindaklanjuti.
"Empat puluh ton, Pak," ujar Suparto ketika menyampaikan kebutuhan jagung kepada Mentan Amran.
Setelah mendengar permintaan tersebut, Mentan Amran langsung mencatat kebutuhan sebanyak 40 ton dan mengarahkan jajaran Bulog untuk segera menyalurkannya melalui Bulog Bojonegoro.
Suparto pun menyampaikan terima kasih atas respons langsung Menteri Pertanian terhadap persoalan pasokan jagung yang dihadapi koperasinya.
Tindak lanjut permintaan dari Magetan dan Lamongan tersebut mencakup total 90 ton jagung SPHP yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan koperasi peternak.
Kementan Perkuat Koperasi dan Bulog untuk Menjamin Pasokan Jagung
Mentan Amran menegaskan bahwa peningkatan produksi jagung harus berjalan bersamaan dengan penguatan sistem penyerapan hasil panen dan jaminan ketersediaan pasokan bagi peternak.
Pemerintah tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan sarana produksi, tetapi juga membangun mekanisme pemasaran agar hasil panen petani dapat terserap secara berkelanjutan.
Dalam skema yang dikembangkan, petani mendapatkan dukungan benih, pompa air, dan alsintan sesuai kemampuan anggaran, sedangkan koperasi berperan menghubungkan hasil produksi dengan kebutuhan peternak.
Perum Bulog juga dilibatkan untuk menyerap kelebihan produksi jagung dan menyimpannya sebagai cadangan yang dapat dimanfaatkan ketika pasokan mengalami keterbatasan.
"Ini kita bangun sistem baru, ekosistem baru. Petani jagung dengan peternak satu kesatuan membentuk koperasi," ujar Mentan Amran.
Melalui sistem tersebut, pemerintah berupaya mengurangi kesenjangan antara ketersediaan hasil panen jagung dan kebutuhan bahan baku pakan di sektor peternakan.
Pengembangan lahan jagung seluas 500 hektare, tindak lanjut permintaan jagung SPHP sebanyak 50 ton di Magetan dan 40 ton di Lamongan, serta penguatan peran koperasi dan Bulog menjadi bagian dari langkah Kementerian Pertanian membangun rantai pasok jagung yang lebih terintegrasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produksi dan memperoleh kepastian pasar, sekaligus memastikan peternak mendapatkan pasokan jagung secara lebih terjamin dan berkelanjutan.
- Penulis :
- Leon Weldrick




