
Pantau - Hizbullah pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 16:37 WIB merilis laporan yang memuat pernyataan pemimpinnya, Naim Qassem, tentang potensi eskalasi dengan Israel dan ancaman respons "menyakitkan."
Laporan itu menyebut Qassem melontarkan peringatan keras kepada Israel pada Senin dalam sebuah upacara peringatan yang pidatonya disiarkan melalui saluran televisi al-Manar.
Ia menuduh Amerika Serikat mendukung secara langsung operasi militer Israel serta ekspansi regional yang dilakukan negara tersebut.
Peringatan Respons dan Tuduhan Dukungan AS
Dalam pidatonya, Qassem menegaskan Israel akan menghadapi respons yang "menyakitkan." apabila ketegangan semakin meningkat.
Qassem menyatakan Israel sedang menjalankan strategi "tekanan maksimal." yang bertujuan memaksa konsesi politik tanpa harus menanggung biaya perang yang lebih luas.
Ia menambahkan bahwa meskipun Israel mungkin memperoleh keunggulan militer taktis dalam konfrontasi tertentu, negara tersebut tidak akan mampu memaksakan kendali maupun stabilitas jangka panjang.
Qassem menggambarkan Amerika Serikat sebagai "mitra penuh." dalam tindakan-tindakan Israel, termasuk dukungan politik dan diplomatik.
Ia menuding Washington turut mengelola operasi serta memberikan dukungan bagi kampanye militer maupun perluasan teritorial Israel.
Klaim Ekspansi dan Latar Pertempuran Perbatasan
Qassem menggambarkan Israel sebagai sebuah "entitas ekspansionis." yang berupaya memperluas kendali teritorial di seluruh Palestina dan kawasan sekitarnya.
Ia memperingatkan adanya upaya aneksasi secara bertahap dan formal terhadap wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Qassem menyoroti perkembangan di Gaza dan mengklaim bahwa sebagian besar wilayah tersebut kini berada di bawah kendali langsung Israel.
Hizbullah dan Israel diketahui terlibat dalam pertempuran lintas perbatasan sejak pecahnya konflik Gaza pada Oktober 2023.
Kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak telah berlaku sejak 27 November 2024.
Meski gencatan senjata berlaku, Israel dilaporkan masih melancarkan serangan berkala di Lebanon dengan alasan untuk melenyapkan ancaman dari Hizbullah.
- Penulis :
- Leon Weldrick







