
Pantau - Iran menyatakan kepada Inggris bahwa setiap upaya mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel harus disertai jaminan agar serangan tidak terulang di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA.
Araghchi menegaskan, "Jalan menuju normalisasi kondisi adalah penghentian serangan-serangan ini. Penghentian perang harus disertai dengan jaminan untuk mencegah terulangnya agresi semacam itu," ungkapnya.
Ia juga memperingatkan agar tidak ada pihak yang memberikan dukungan kepada Amerika Serikat dan Israel selama eskalasi konflik berlangsung.
"Tindakan seperti itu hanya akan meningkatkan situasi dan membuat kondisi lebih rumit," ujarnya.
Iran Desak Inggris Tidak Terlibat
Iran meminta Inggris untuk menahan diri dari kerja sama dengan Washington dan Tel Aviv, baik dalam bidang militer maupun media.
Araghchi mengkritik penyediaan pangkalan militer Inggris kepada Amerika Serikat dan menegaskan, "Tindakan ini tentu akan dianggap sebagai partisipasi dalam agresi dan akan tercatat dalam sejarah hubungan bilateral," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Iran tetap memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya.
Iran juga mengkritik sikap Inggris dan sejumlah negara Eropa yang dinilai tidak mendukung Teheran saat menjalankan diplomasi.
Korban Sipil dan Eskalasi Konflik
Araghchi menyebut serangan yang terjadi telah menewaskan lebih dari 170 siswa sekolah dasar di Iran.
"Kami menghormati kedaulatan negara-negara tetangga dan tidak berniat menyerang mereka," katanya.
"Namun, sayangnya, pangkalan AS di negara-negara tersebut digunakan untuk menyerang kami, dan negara-negara tersebut gagal memenuhi tanggung jawab internasional mereka untuk mencegah penggunaan wilayah mereka untuk serangan terhadap Iran," lanjutnya.
Iran juga mengutuk serangan terhadap fasilitas South Pars serta menyampaikan kekhawatiran atas minimnya kecaman internasional.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyerukan penghentian perang dan penurunan ketegangan di kawasan.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak politik dan ekonomi konflik, termasuk potensi ketegangan di Selat Hormuz.
Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran yang menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
- Penulis :
- Leon Weldrick




