
Pantau - Kementerian Luar Negeri China mengecam tindakan Amerika Serikat yang menyita kapal kargo Iran di dekat Selat Hormuz karena dinilai berpotensi memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah pada Senin, 20 April 2026 di Beijing.
China Soroti Situasi Kritis Selat Hormuz
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan kondisi Selat Hormuz saat ini sangat rapuh dan kompleks sehingga memerlukan kehati-hatian dari semua pihak.
"Situasi di Selat Hormuz saat ini sangat rapuh dan kompleks. Kami prihatin atas tindakan penyergapan paksa yang dilakukan AS terhadap kapal tersebut," ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga kelancaran lalu lintas pelayaran sebagai kepentingan bersama negara kawasan dan komunitas internasional.
"Kami berharap pihak-pihak terkait dapat menghormati kesepakatan gencatan senjata secara bertanggung jawab, menghindari tindakan yang memperburuk sengketa dan meningkatkan ketegangan," katanya.
Konflik AS-Iran Kian Memanas
Guo menyebut situasi regional berada pada fase krusial yang menentukan apakah konflik dapat segera diakhiri melalui momentum perdamaian yang ada.
"Kami berharap agar semua pihak dapat bekerja sama mencegah situasi ini agar tidak semakin memburuk," ujarnya.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan jika gencatan senjata dengan Iran berakhir.
"Banyak bom akan mulai meledak," kata Trump.
Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan atau ultimatum dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat.
Penutupan jalur maritim di sekitar Selat Hormuz turut berdampak besar terhadap distribusi energi global yang mencapai sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf






