
Pantau - Iran disebut menggunakan strategi “armada nyamuk” yang terdiri dari ratusan kapal untuk mengendalikan Selat Hormuz.
Laporan tersebut disampaikan media Financial Times dengan mengutip sejumlah ahli militer.
Pada April 2026, para ahli mengatakan kepada majalah National Defense bahwa Iran memiliki sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir dan beberapa ribu kapal cepat rudal serta kapal serang.
Armada tersebut dinilai mampu secara efektif melawan Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Sebagian kapal dalam armada itu hanya dipersenjatai ringan, namun beberapa lainnya dilengkapi rudal jarak pendek.
Financial Times menyebut kombinasi armada tersebut dengan persenjataan rudal dan drone milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC membantu Iran mempertahankan ancaman yang cukup untuk menghalangi kapal-kapal melintasi Selat Hormuz.
Publikasi itu juga menyebut “armada nyamuk” merupakan kekuatan permukaan paling aktif milik Iran saat ini.
Angkatan laut Iran disebut menggunakan kapal buatan dalam negeri yang murah dan mudah diganti serta model kapal yang lebih canggih.
Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Panas Pascagencatan Senjata
Financial Times menilai armada tersebut tetap memainkan peran sentral dalam pengendalian Selat Hormuz bahkan setelah berakhirnya permusuhan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang target-target di Iran yang disebut menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Washington dan Teheran kemudian menyatakan gencatan senjata pada 8 April 2026.
Pembicaraan lanjutan di Islamabad dilaporkan berakhir tanpa hasil pasti meski belum ada laporan dimulainya kembali permusuhan secara terbuka.
Namun Amerika Serikat disebut mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Penulis :
- Gerry Eka





