
Pantau - Saudi Aramco memperingatkan pasar minyak global tidak akan kembali normal hingga tahun depan jika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tidak pulih dalam waktu satu bulan akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan dapat memicu ketidakstabilan pasar energi dunia hingga 2027.
“Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa pekan tambahan, maka akan dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil,” ungkap Amin Nasser dalam konferensi video hasil kuartal pertama Saudi Aramco.
Gangguan Selat Hormuz Ancam Pasokan Energi Dunia
Nasser menyebut pasar minyak global telah kehilangan sekitar satu miliar barel minyak akibat terganggunya produksi dan transportasi energi sejak konflik pecah di kawasan Teluk Persia.
Ia mengatakan pasar minyak akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan selama Selat Hormuz tetap tertutup.
Menurutnya, sebelum konflik terjadi sekitar 70 kapal per hari melintasi Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran disebut berdampak besar terhadap aktivitas produksi dan ekspor minyak serta gas dari negara-negara Teluk Persia.
Sebelum konflik dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur tersebut menuju pasar global.
Konflik Iran dan AS Picu Ketegangan Berkepanjangan
Konflik bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran pada 28 Februari yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan untuk membuka ruang negosiasi.
Namun pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan sehingga Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang penghentian permusuhan guna memberi kesempatan Iran mengajukan “proposal terpadu”.
Ketegangan kembali meningkat setelah Trump pada 11 Mei menyebut respons Iran terhadap proposal damai Amerika Serikat sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”.
Sebelumnya pada 3 Mei, Trump juga mengumumkan Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz keluar dari wilayah konflik.
Namun operasi tersebut dihentikan sementara pada 5 Mei untuk melihat peluang tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Krisis di Selat Hormuz telah mendorong lonjakan harga energi global karena jalur tersebut menjadi salah satu nadi utama pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





