
Pantau - Indonesia terus memperjuangkan penguatan kerja sama ketahanan pangan dan energi di tingkat ASEAN di tengah gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik internasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan isu pangan dan energi menjadi perhatian penting karena berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Indonesia Dorong Penguatan Cadangan Pangan ASEAN
“Indonesia juga mendorong agar isu pangan dan energi dilihat secara terintegrasi, mengingat keduanya saling berkaitan, termasuk dalam aspek pupuk, logistik, dan stabilitas harga,” ungkap Nabyl kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Menurutnya, Indonesia secara aktif mengangkat isu ketahanan pangan dalam berbagai forum ASEAN, termasuk pertemuan tingkat menteri pertanian dan kehutanan ASEAN atau AMAF.
Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi regional, peningkatan cadangan pangan, serta penguatan sistem pengawasan dan peringatan dini terhadap potensi krisis pangan.
“Indonesia terus mendorong implementasi Deklarasi Pemimpin ASEAN tentang Memperkuat Keamanan Pangan dan Nutrisi yang diadopsi pada keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023,” katanya.
ASEAN Bahas Cadangan Beras dan Energi
Dalam pertemuan khusus AMAF pada 29 April lalu, negara-negara ASEAN membahas penguatan cadangan beras darurat ASEAN Plus Three atau APTERR serta mekanisme Sistem Informasi Ketahanan Pangan ASEAN (AFSIS).
Selain itu, ASEAN juga membahas kesiapsiagaan pangan untuk komoditas selain beras serta diversifikasi sumber pasokan pupuk dan energi.
KTT ke-48 ASEAN yang berlangsung di Cebu, Filipina, pekan lalu turut menempatkan ketahanan pangan, energi, dan keselamatan warga ASEAN sebagai prioritas utama kawasan.
Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn mengatakan para pemimpin ASEAN menyerukan pasar terbuka yang dapat diprediksi, penguatan konektivitas rantai pasok, dan pemantauan lebih efektif terhadap cadangan pangan regional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





